Minggu, 06 September 2015

Tawhied, Nativisme dan Kepariwisataan

Sudah sering didengar bahwa kita perlu selektif terhadap wisatawan manca negara jangan sampai mencemari lingkungan budaya dan fisik. Namun masih jarang diperdengarkan betapa perlunya pula selektif terhadap kebudayaan lama yang dipromosikan untuk menarik wisatawan, jangan sampai menjurus pada nativisme yang bententangan dengan nilai tawhied.

Dahulu kala orang mempertuhankan hantu penguasa hutan, bukit, lembah, rawa, sungai, danau yang disebutnya dengan Patanna Butta, yang empunya daerah. Menurut informasi yang pernah saya dengar dan E.A.Mokodompit konon menurut penduduk pedalaman di Sultra, hutan di sana dijaga oleh hantu yang bergelar Songko' Toroki. Tuhan kalau dibaca terbalik secara syllabic akan berubah bacaannya menjadi hantu, artinya hantu adalah lawan dari Tuhan. Jadi dilihat dan segi bahasa saja perbuatan mempertuhanl hantu ini adalah perbuatan yang kontradiktif. Perbegu, kepercayaan menyembah hantu ini melahirkan budaya sesembahan yang dianggap sakral. Hantu penguasa itu disuguhi sesembahan dalam upacara yang disebut accera', maccera', mendarah, yaitu menyembelih binatang, mengoleskan darah binatang itu, kepalanya ditanam, untuk persembahan yang sakral, yang dalam bahasa Inggeris disebut offering dan sacrifice (persembahan yang sakral). Dalam masyarakat tidak jarang binatang sesembahan itu dirancukan dengan istilah kurban. Maka kerancuan mi perlu dicerahkan.

Berfirman Allah dalam Al Quran S. Al Hajj 36,37 yang artinya:
-- Apabila gugur sembelihan-sembelihan itu makanlah sebagiannya dan selebihnya berilah makan kepada orang-orang miskin yang tidak meminta dan yang meminta. Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darah-darahnya, akan tetapi yang sampai kepadaNya ialah ketaqwaan kamu. Jadi ajaran Islam menolak pemahaman kurban sebagai sesembahan yang sakral. Kurban bukanlah offering, bukan pula sacrifice. Kurban dipungut dari bahasa Al Quran, yaitu "Qurban", yang dibentuk oleh akar kata yang terdiri dan 3 huruf: qaf, ra, ba, artinya dekat. Menyembelih binatang kurban, dagingnya untuk dimakan sendiri dan untuk dimakan fakir miskin sebagai fungsi sosial. Darahnya dibu?ng, karena haram dimakan. Dan arti spiritualnya mendekatkan din, taqarrub kepàth Allah SWT sebagai tanda berbakti kepadaNya melaksanakan perintahNya dengan semangat taqwa.

Dalam wawasan yang Mu'amalah berlaku qaidah: "semua boleh kecuali yang dilarang. Artinya segala produk budaya pada dasarnya semuanya boleh, kecuali yang bertentangan nilai tawhied. Semua produk budaya yang dibangun di atas landasan kepercayaan yang menyimpang dari nilai tawhied disebut khurafat. Jadi kebudayaan boleh berkembang secara selektif: yang khurafat harus dihentikan. Dalam hubungannya dengan khurafat dan kemungkaran lain pada umumnya, Allah berfirman
-- Fa Dzakkir in Nafa'ati dzDzikra-, maka berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat (S. Al A'la- 9). Dan RasuluLlah bersabda: Jikalau melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan, kalau tidak mampu ubahlah dengan mulut, dan kalau itupun tidak mampu juga, jagalah qalbu. Namun yang terakhir mi adalah sikap beriman yang selemah-lemahnya. Ayat dan Hadits di atas itu dinyatakan dalam ungkapan yang lebih pendek: Amar Ma'ruwf Nahie Munkar, menyuruh anif bijaksana mencegah penyelewengan, yang menjadi inti dan Kewajiban Asasi Manusia. Apabila dalam rangka promosi kepariwisataan disuguhkan tradisi yang bertentangan dengan nilai tawhied, maka penyelenggara hendaklah dengan niat menyuguhkannya hanya sekadar sebagai tayangan saja, supaya terhindar dan dosa karena mengerjakan yang khurafat itu. Dan sebelum ditayangkan kepada khalayak, hendaklah diinformasikan baik secara tertulis maupun secara lisan bahwa: Demikianlah konon kepercayaan nenek moyang kami dahulu yang masih memuja hantu yang dianggap penguasa. Apa yang ditayangkan ini cuma sekadar untuk dilihat-lihat, bukan untuk ditiru atas dasar meyakini kebenarannya. Takusahlah pula diberi justifikasi dengan memberikan arti yang kelihatannya filosofis tentang makna kepala binatang sesembahan itu, seperti misal otak, telinga, mata, hidung, lidah, makna ini, kemini (ke ini + mengini), itu, kemitu. Hindarkanlah itu nativisme yang bertentangan dengan nilai tawhied.

Tentang sesembahan ini dengarlah Firman Allah:
-- Ya- Ayyuha Lladziena A-manuw Innama lKhamru wa lMaysiru wa lAnshaabu wa lAzlaamu Rijsun Min 'Amali sySyaythaani fa Jtanibuwhu La'allkum Tuflihuwn (S. Al Ma idah, 9O).Hai orang-onangberiman, sesungguhnya minuman keras, judi, sesembahan untuk berhala, undian nasib, adalah kotor, termasuk hasil perbuatan setan, maka jauhilah akan dia, agar kamu mendapat keberuntungan.

Kalau pada hari Ahad yang lalu ayat ini dikutip untuk disorotkan pada al maysir + al azlam, judi + undian, yang diberi label sumbangan dalam SDSB, maka hari ini disorotkan pada al anshaab, sesembahan, yang dibeberapa daerah ditayangkan untuk promosi menarik wisatawan, yang antara lain seperti misalnya maccera' tappareng. WaLlahu a'almu bisshawab.

*** Makassar, 21 November 1993 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Memerdekakan Sains dari Atheisme dan Agnostisisme. Menuju Satu Sistem Pendekatan Ayat Qawliyah-Kawniyah

Atheisme adalah faham yang menolak tentang adanya Tuhan. Lembaga pendukungnya berupa negara komunis USSR, yang sekarang sudah mantan, selama sekitar 70 tahun tampil di panggung dunia dan sempat menjadi salah satu raksasa. Sebelumnya di Indonesia lembaga pendukung atheisme yaitu PKI telah hancur 28 tahun lalu. Sungguhpun lembaga pendukung itu sudah lenyap, namun atheisme ini masih kuat kukunya mencengkeram sains tanpa disadari betul oleh para pakar apa lagi yang bukan pakar.

Agnostisisme adalah faham yang tidak mau pusing tentang Tuhan. Bagi mereka yang menganut faham ini adanya Tuhan ataupun tidak adanya Tuhan bukanlah masalah yang harus diseriusi. Faham ini tidak didukung oleh yang melembaga tetapi secara sporadis didukung oleh para filosof seperti misalnya Betrand Russel. Sama dengan atheisme, agnostisisme ini juga erat mencekik sains.

Pokok kepercayaan dalam dunia ilmiyah disebut dengan postulat. Keseragaman di alam raya ini adalah sebuah postulat dan itu merupakan asas filsafat dalam dunia ilmiyah. Postulat tentang keseragaman di alam raya ini dalam dunia ilmiyah yang tidak mau tahu tentang Tuhan, yang diwarnai oleh atehisme dan agnostisisme, sama sekali tidak ada dasarnya, karena diterima begitu saja, tanpa alasan apa-apa.

Sebagai ilustrasi, kalkulasi matematis Einstein tentang gravitasi dengan aljabar tensor, ada 20 koefisien gravitasi yang disebut koefisien kelengkungan (coefficients of curvature). Kalau semua koefisien itu nol berarti geometri ruang-waktu datar, gravitasi tidak ada. Kalau semua harga koefisien kelengkungan itu sembarangan maka gravitasi juga akan bekerja sembarangan, artinya tidak ada keteraturan di alam ini. Einstein memilih tengah-tengahnya, 10 koefisien yang nol, dan 10 koefisien yang sembarangan. Ini memberikan hasil geometri ruang-waktu tidak datar dan gravitasi diikat hukum tertentu dan berlaku di mana-mana di dalam geometri ruang-waktu. Kita mempunyai asusmsi bahwa Einstein percaya akan adanya Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Namun Einstein tidak mengaitkan suatu apapun kepada Allah tentang keseragaman dan keteraturan hasil ciptaanNya dalam Teori Relativitas Umumnya, karena Einsteinpun taat pada warna ilmu yang memihak kepada golongan atheist agnostik, tidak boleh menyebut-nyebut Allah dalam sains.

Jika sains itu berasaskan tawhid, Allah Maha Esa dalam zatNya, Maha Esa dalam oknumNya, Maha Esa dalam sifatNya dan Maha Esa dalam PerbuatanNya, maka prinsip keseragaman, keuniversalan dan keteraturan alam semesta di alam raya ini kuat dan logis landasannya. Artinya Allah SWT Yang Maha Esa, sebagai Al Khaliq sebagai Maha Pencipta dan Ar Rabb, Maha Pengatur, Maha Esa dalam perbuatanNya, membawa konsekwensi logis kuatnya landasan tentang keseragaman dan keteraturan alam semesta. Jadi Pendekatan Ilmiyah itu barulah kuat landasan dan titik tolaknya, apabila Pendekatan Ilmiyah berpangkal tolak dari Tawhied. Dunia ilmiyah harus dimerdekakan dari cengkeraman faham-faham atheist dan agnostik.

Pada kutub yang lain pemahaman Al Quran, yatafaqqahu fi ddiyn, sudah berhenti dalam tahap ijtihad di bidang hukum atau penafsiran di luar bidang hukum. Hanya berhenti dalam keadaan status quo, menurut qaul si fulan begini dan menurut qaul si fulan yang lain begitu. Sebagai contoh yang sangat sederhana ialah kasus SDSB. Sudah berhenti dalam tahap perumusan status quo: Ada faqih (pakar di bidang fiqh), yaitu Prof.DR. K.H.Ibrahim Hosen, yang Ketua Komisi Fatwa MUI mengatakan SDSB itu bukan judi, jadi tidak haram. Namun sejumlah faqih lain mengatakan SDSB itu judi, jadi haram. Inilah suatu keadaan status quo, yang tidak memecahkan permasalahan, mengendap dalam qala wa qiela. Di sinilah kelemahan pendekatan yatafaqqahu fi ddiyn dalam Ilmu Fiqh, yaitu tidak melanjutkan tahap ijtihad itu ke tahap ujicoba. Buat penelitian dari segala segi oleh lembaga yang independen dari lembaga pengelola SDSB itu. Penelitian itu harus menyangkut dari banyak segi seperti misalnya antara lain pengaruhnya terhadap prestasi oleh raga, kesehatan mental masyarakat dari penyakit pola pikir spekulatif dan khurafat, peredaran uang, etos kerja keras, kriminalitas dan lain-lain. Kemudian hasil penelitian itu dirujukkan pada kriteria Al Quran. Kalau mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya maka itu adalah judi dan dalam hal ini haram hukumnya.

Al Quran tidak membedakan pengertian ayat, baik yang dimaksud dengan isi Al Quran, yang disebut dengan ayat Qawliyah (terucap), maupun yang dimaksud dengan alam, yang disebut dengan ayat Kawniyah (kosmologik). Dalam kedua ayat di bawah ini jelas Al Quran tidak membedakan pengertian ayat, baik sebagai ayat menyangkut isi Al Quran, maupun ayat tentang alam.
-- Wa laa tasytaruw bia-ya-tiy tsamanan qaliylan, dan janganlah engkau menjual ayat-ayatKu dengan harga murah (S. Al Baqarah, 2:41) Wa yunazzilu mina ssama-i ma-an fayuhyiy bihi l.ardha ba'da mawtihaa inna fiy dza-lika laa-ya-tin liqawmin ya'qiluwn, dan diturunkanNya hujan dari langit, dan dengan itu dihidupkanNya bumi sesudah matinya, sesungguhnya dalam hal ini adalah ayat-ayat bagi kaum yang mempergunakan akalnya (S. Ar Ruwm,24).

Jadi baik isi Al Quran maupun alam semesta adalah sumber informasi, suatu fakta yang tak boleh diragukan. Kedua sumber informasi itu berasal dari Allah SWT, Sumber dari segala sumber. Dalam bahasa Indonesia dan juga bahasa lain kata ayat ini tetap dipakai, tidak usah diterjemahkan. Maka orang akan memfokuskan minatnya menghilangkan polarisasi pendekatan terhadap ayat Qawliyah dengan yang Qawniyah, melebur keduanya menjadi satu sistem, yaitu Pendekatan Qawliyah-Kawniyah, seperti berikut:

a) berlandaskan tawhid,
b) bertolak dari sikap ragu terhadap pemikiran manusia,
c) pengamatan,
d) penafsiran,
e) ujicoba.

Hasil pengamatan ditafsirkan. Penafsiran membuahkan teori. Teori adalah hasil pemikiran manusia, dan itu perlu diragukan, artinya belum tentu benar. Jadi harus diujicoba, yaitu dengan jalan merujukkannya pada sumber informasi, yaitu ayat Qawliyah dan Kawniyah. Ujicoba penafsiran Al Quran dirujukkan pada ayat-ayat Al Quran yang lain dan bila mungkin dirujukkan pula pada ayat-ayat alam. Demikian pula ujicoba terhadap penafsiran alam dirujukkan kepada ayat-ayat alam yang lain, dan bila mungkin dirujukkan kepada ayat Al Quran.

Hari Ahad lalu kita sudah tuliskan bagaimana teori evolusi itu diberi nilai tawhid, itu artinya kita sudah memakai metode Pendekatan Qawliyah-Kawniyah tahap awal, berlandaskan tawhid. Juga dalam tulisan tersebut, teori evolusi itu dijadikan ilmu bantu dalam memahami S.Al A'la, 2. Dari sisi lain itu berarti teori evolusi itu diujicoba dengan merujukkannya pada sumber informasi ayat Qawliyah S.Al A'la: Alladziy khalaqa fa sawwa-, yaitu Yang mencipta lalu menyempurnakan.

Namun perlu ditekankan di sini, bahwa tentu tidak semua ijtihad dan penafsiran itu dapat diujicoba, baik itu terhadap sumber informasi wahyu, yang Qawliyah, maupun terhadap sumber informasi alam, yang Kawniyah. Dalam hal ijtihad yang tidak dapat diujicoba merujuk pada ayat Qawliyah dan Kawniyah, maka ijtihad yang berbeda itu ibarat pakaian, dipakai dalam situasi yang cocok, ibarat pakaian tebal dipakai pada musim dingin, dan pakaian tipis dipakai pada musim panas.

Catatan: Seri ini adalah lanjutan dan sasaran akhir dari kedua seri sebelumnya, yaitu Teori Evolusi dan Allah Mencipta lalu Menyempurnakan. Maka eloklah kiranya ketiga seri tersebut dibaca berkesinambungan. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 17 Oktober 1993 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Sihir (bagian pertama)

Tukang sihir Syria dahulu kala membuat pedang yang ampuh dengan jalan menusukkan pedang panas merah menyala ke perut budak. Penyihir ini berkeyakinan dalam darah manusia terdapat kekuatan magis, dan dengan proses penusukan itu berpindahlah tenaga magis itu ke dalam pedang. Pedang yang disihir oleh penyihir Syria itu betul-betul ampuh. Pedang yang berkekuatan magis itu dapat menebas putus pedang lawan yang tidak berisi kekuatan magis. Dalam dunia persihiran kekuatan magis ini dikenal dengan nama mana di kalangan bangsa-bangsa Proto dan Deutro Melayu di Kepulauan Nusantara dan Polynesia, dikenal dengan nama orenda di kalangan Indian Iroquios, wakan di kalangan Indian Sioux, manitou di kalangan Indian Algonquian dll.

Kita lanjutkan dengan kisah Boto Lempangang, bagaimana ia menempuh proses dramatik menjadi boto (futerolog) Kerajaan Gowa. Ia berasal dari Ampangang. Ia menantang boto kerajaan dalam keahlian ilmu sihir. Taruhannya? Apabila ia menang, ia akan menjadi boto kerajaan, dan apabila kalah ia dihukum mati. Maka dibentuklah panitia untuk melaksanakan sayembara sihir ini. Panitia menanam bajak dan sisir sawah. Kemudian sang penantang disuruh dahulu untuk menebak apa yang ditanam itu. Dengan serta merta orang dari Ampangang ini mengatakan itik putih dua ekor. Maka dipanggillah algojo untuk mengeksekusinya. Tetapi orang Ampangang ini menyela: "Tunggu, gali dahulu apa yang ditanam itu." Maka digalilah dan akhirnya melompatlah keluar dari lubang galian itu itik putih dua ekor. Saat itu juga ia dinobatkan menjadi Boto Kerajaaan Gowa. Begitu upacara pelantikan selesai, Boto Lempangang mendemontrasikan sihirnya pula. "Hai itik kembalilah kau pada wujudmu yang asal." Kedua ekor itik putih itu berubah menjadi bajak dan sisir sawah kembali. Berkomentarlah tau jaiya (majelis, large audience): "Tau anjari kananna." (orang yang mewujudkan ucapannya)

Apakah cerita dukun sihir Syria dan Boto Lempangang dan itu omong kosong belaka? Tunggu dahulu! Bagaimana dengan tukang sihir Syria itu? Ini bukan sihir, melainkan teknologi metalurgi yang dilatar belakangi dengan pemahaman kekuatan magis. Apa yang terjadi pada waktu pedang merah menyala itu ditusukkan ke perut budak, itu akan sama efeknya dengan menusukkannya ke dalam kantung kulit berisi air, juga akan sama efeknya dengan proses dalam dunia teknologi yang modern, yaitu menyembur pedang itu dengan ion-ion karbon. Dengan proses ini baja dapat diubah strukturnya menjadi malleable. Jenis alloy (logam campuran) besi-karbon jenis malleable ini baru didapatkan dalam metalurgi modern dalam abad ke-19, pada hal tukang sihir Syria dahulu kala sudah mendapatkannya jauh terlebih dahulu. Malleable ini sangat keras, makin digergaji makin keras. Terali besi penjara di Inggeris banyak yang memakai malleable ini.

Ilmu sirap (hypnosis) dalam perjalanan sang waktu yang panjang sekali ditengarai sebagai praktek sihir. Barulah dalam abad belakangan didemistifikasi, artinya mistik itu dirasionalkan, dan menjadi bagian dari proses penyembuhan dalam dunia kedokteran. Bahkan dalam beberapa negara proses penyembuhan dengan hypnosis ini dapat diasuransikan. Seorang penyihir yang unggul mampu menimbulkan ilusi optikal di kalangan tau jaiya. Seamsal tukang sihir India dengan kemampuan menimbulkan ilusi tali bergulung yang ujungnya tegak seperti ular kobra. Nah, Boto Lempangan sang penyihir yang dalam ungkapan rasional kekinian, berarti seorang ahli hypnosis yang yang mampu memberikan sugesti positif berupa ilusi optikal itik putih dua ekor. Di samping sugesti positif ada pula penyihir yang mampu memberikan sugesti negatif, dan ini dikenal dengan ilmu siraung di daerah ini. Dahulu orang yang silariang memakai ilmu ini, ilmu melenyapkan diri dari pandangan orang.

Dari manakah datangnya energi untuk keperluan ilmu sirap itu? Apakah energi tersebut itulah yang dikenal sebagai kekuatan magis dalam dunia persihiran yang dikenal sebagai mana di kalangan bangsa-bangsa Proto dan Deutro Melayu di Kepulauan Nusantara dan Polynesia, dikenal dengan nama orenda di kalangan Indian Iroquios, wakan di kalangan Indian Sioux, manitou di kalangan Indian Algonquian? Bagaimana seandainya itik putih atau tali itu difoto? Apakah kekuatan hipnosis itu mampu mempengaruhi pula sel photografik ataupun detektor elektrostatik? Apakah Itu tergantung pada tenaga yang tersimpan dalam diri penyirap yang mampu ia salurkan keluar?

Saya minta kesabaran anda sampai hari Ahad yang akan datang untuk jawaban berondongan pertanyaan itu!

*** Makassar, 12 September 1993 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Teka-teki dan Humor

Teka-teki ada tiga tingkatan. Yang gampang, yang susah dan yang di atara keduanya, gampang-gampang susah. Teka-teki di kalangan anak-anak tentu termasuk dalam teka-teki yang gampang, bahkan teka-teki main-main. Seorang anak bertanya kepada temannya: "Apakah yang terletak di antara bumi dengan langit dan yang terletak ditengah sawah?" Maka dijawablah dengan spontan oleh temannya. "Oh, gampang, yang terletak di antara bumi dengan langit adalah udara dan yang terletak di tengah sawah adalah padi." "Oh, salah, yang benar adalah kata dengan dan huruf w.

Bahwa teka-teki main-main ini kadang-kadang juga terjadi di kalangan antara dosen dengan mahasiswanya. Ini sebuah penuturan seorang mahasiswa ITB: "Seorang dosen fisika, bekas kanonier (tukang meriam) pada waktu Perang Dunia II bernama Ir J.G.Boersma. Dosen ini terkenal di kalangan mahasiswanya sebagai killer, sedikit yang lulus. Saya harus menghadapinya dengan tatap muka, ujian lisan. Setelah saya duduk ia langsung bertanya: 'Wat is er gebeurd als ik dit knop ga drukken.' Apa yang tejadi jika saya menekan tombol ini. Saya tertegun, tidak segera menjawab. Akhirnya saya tidak menjawab, melainkan balik bertanya: 'Maar mijnheer, waarom uw vraag is te gemakkelijk.' Tapi tuan, mengapa pertanyaan tuan itu begitu mudah. Dosen itu mengisyaratkan agar saya menjawab. Lalu saya jawablah bahwa kalau saya menekan tombol aliran listrik masuk kumparan, besi yang dililit kumparan menjadi maknit tangkai pemukul lonceng akn bergerak memukul lonceng. Lalu apa komentar dosen itu. 'Oh jawaban tuan itu tidak lengkap. Mau lihat buktinya? Coba tekan sendiri tombol itu!' Ketika saya menekan tombol, tidak kedengaran bunyi lonceng. Namun beberapa saat kemudian seorang pelayan masuk membwa secangkir kopi susu. 'Andaikan jawaban tuan itu kena betul, tuan akan dapat juga bagian secangkir kopi. Jadi apa yang terjadi, satu kali menekan tombol itu adalah isyarat agar saya dibawakan kopi.' Dosen yang terkenal killer ini tinggi selera humornya. Dosen yang sangat ditakuti mahasiswa ini sesungguhnya tidak lepas juga dari sifat yang manusiawi. Mencoba menghilangkan kekakuan suasana ujian yang penuh formalitas. Bahkan ia mencoba menciptakan suasana agar tidak terjadi jarak antara yang menguji dengan yang diuji."

"Ada pula seorang guru besar dalam ilmu yang disebut Anallijtische Meetkunde bernama Prof. M. T. Leeman," tutur mahasiswa tersebut melanjutkan ceritanya. "Sebelum guru besar ia seorang Drs. Rupanya kebiasaan orang Belanda gelar Drs. tidak dipakai lagi kalau sudah menyandang gelar professor. Dia itu juga tinggi selera humornya. Ada seorang mahasiswa masuk diam-diam karena terlambat, namun sempat dilihat sang dosen. Prof. Leeman memanggil mahasiswa bersangkutan ke papan tulis. Pada waktu itu belum ada yang disebut dengan white board dengan spidolnya, apa lagi yang bernama OHP. Prof. Leeman menuliskan sebuah persamaan yang kemudian disuruh gambar grafiknya. Grafik itu mempunyai asymptoot yang mendatar. Setelah garis asymptootnya itu selesai ia tarik, mulailah ia menggambar grafiknya. Pada waktu grafik itu tiba di pinggir papan tulis, dosen itu mengatakan: "Door trekken (tarik terus)!" Demikianlah mahasiswa menarik garis grafik itu lanjut ke dinding hingga keluar kelas. "Tarik terus! dan jangan kembali." Demikian Prof. Leeman secara humor mengeluarkan mahasiswa itu dari dalam kelas."

Kita kembali ke teka-teki yang gampang-gampang susah. Mana yang lebih berat kapas 1 kg dengan besi 1 kg? Tanpa pikir panjang ada saja yang menjawab besi yang lebih berat. Padahal sama-sama 1 kg jadi sama berat. Akan tetapi kalau anak itu jeli ia akan bertanya dimana kapas dan besi itu ditimbang. Kalau ditimbang dalam ruang hampa, memang sama berat. Namun apabila ditimbang dalam udara terbuka, jawabannya akan lain, yaitu kapas yang lebih berat. Mengapa? Hukum Archimedes tidak hanya berlaku dalam zat cair, melainkan berlaku pula di udara. Benda itu mendapat tekanan ke atas sama berat dengan berat udara yang didesaknya. Volume 1 kg kapas jauh lebih besar dari volume 1 kg besi. Artinya gaya yang menyorong kapas itu ke atas lebih besar dari gaya yang menyorong besi itu. Jadi apa yang ditimbang sebagai 1 kg kapas maupun besi, adalah gaya-gaya resultante ke bawah dan ke atas pada titik berat kapas dan besi itu. Misalkan berat kapas = K, gaya Archimedes ke atas pada kapas = k, berat besi = B, gaya Archimedes ke atas pada besi = b, maka K - k = 1kg, begitu pula B - b = 1 kg. Jadi K - k = B - b. Karena volume kapas > volume besi, maka k>b, sehingga K>B, berat kapas lebih besar dari berat besi, yang dengan perkataan lain kapas yang ditimbang 1 kg lebih berat dari besi yang ditimbang 1 kg dalam udara terbuka.

Yang berikut ini teka-teki dalam ilmu aljabar yang membutuhkan kejelian dan pemikiran yang melebihi teka-teki kapas dan besi di atas itu.

a^2 - b^2 = (a + b) (a - b). Kalau a diganti b, maka persmaan itu menjadi:
a^2 - a^2 = (a - a) (a + a). Pada sayap kiri faktor a dapat dikeluarkan, lalu sayap kiri persamaan menjadi: a (a - a), sehingga
a (a - a) = (a - a) (a + a). Karena sayap kiri mempunyai faktor yang sama dengan sayap kanan, maka persamaan itu akhirnya menjadi:
a = (a + a),
a = 2a,
1 = 2

Tentu saja tidak mungkin 1 = 2, lalu di mana letak salahnya? Karena ruangan terbatas, maka sabarlah menunggu jawaban teka-teki 1 = 2, ini yang insya Allah akan diungkap hari Ahad yang akan datang. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 1 Agustus 1993 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga:

Bintang-Bintang, dan Peristilahan Ilmiyah

Tulisan ini dibuat berhubung dengan lambannya penyesuaian peristilahan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, hatta bahkan menyangkut istilah ilmiyah sekalipun. Maka berikut ini akan dikemukakan hal ihwal peristilahan dalam hal nama jenis bintang-bintang.

Dalam istilah sehari-hari benda-benda yang kita lihat di atas bola langit hanya dibedakan dalam: matahari, bulan dan bintang-bintang. Untuk keperluan praktis dalam hal pelayaran dan pertanian beberapa dari bintang itu diberi nama diri. Dalam hal pelayaran beberapa dari bintang itu menjadi petunjuk mata-angin, dan dalam hal pertanian menjadi petunjuk musim bila waktunya untuk mengolah lahan, bila waktunya untuk bertanam dan lain-lain.

Dalam ilmu falak atau astronomi bintang-bintang itu di samping diberi nama diri juga diberikan pula nama jenis atau nama golongan. Ada yang disebut dengan bintang-bintang tetap. Mengapa dikatakan demikian, karena walaupun bintang-bintang itu kelihatannya beredar mengelilingi bumi dilihat dari bumi ini, bintang-bintang itu jaraknya tidak berubah-ubah antara satu dengan yang lain di atas bola langit. Persangkaan orang Yunani Kuno bintang-bintang tetap itu elekat pada bola langit. Bintang-bintang yang melekat itu dibawa oleh bola langit mengelilingi bumi. Ada pula yang disebut dengan planet. Istilah ini diambil dari bahasa Yunani yang berarti musafir. Mengapa disebut musafir, oleh karena persepsi mereka bintang-bintang jenis planet itu tidak melekat pada bola langit, melainkan mempunyai garis edar sendiri-sendiri di antara bumi dengan bola langit. Dengan demkian planet itu bergerak/bergeser terhadap bintang-bintang tetap itu. Dilihat dari segi gerak ini maka baik matahari maupun bulan tergolong dalam planet, oleh karena kedua benda langit itu disangka pula oleh orang Yunani kuno terlepas dari bola langit, yang garis edar keduanya juga terletak di antara bumi dengan bola langit. Maka matahari dan bulan pun bergeser terhadap bintang-bintang tetap yang melekat di bola langit itu. Dalam ilmu astronomi walaupun sebenarnya kedua benda langit ini adalah musafir atau planet, keduanya tidak disebut planet, keduanya tetap dengan nama diri masing-masing: matahari dan bulan. Golongan yang ketiga adalah disebut dengan galaxy yaitu gugus bintang-bintang tetap. Ada pula gugus yang lebih besar, yaitu gugus yang anggotanya terdiri atas galaxy dan disebut dengan super-galaxy atau cluster.

Mengapa bintang-bintang itu ada yang tetap letaknya antara satu dengan yang lain, oleh karena belakangan baru ketahuan, yakni setelah berkembangnya ilmu astronomi, bahwa bintang-bintang tetap itu letaknya sangat jauh, dihitung dalam jarak tahun cahaya. Oleh karena jayuhnya itu maka dilihat dari bumi bintang-bintang itu jaraknya tetap antara satu dengan yang lain. Dan untuk itu
bintang-bintang tetap itu dapat dijadikan pedoman baik oleh para pelaut, maupun oleh para musafir di padang pasir untuk penentuan arah mmata angin pada waktu malam hari. Lain halnya dengan planet yang musafir itu. Mengapa letaknya tidak tetap antara satu dengan yang lain sehingga dikatakan musafir, oleh karena juga baru belakangan ketahuan, bahwa planet-planet matahari dan bulan letaknya dekat, hanya dalam jarak menit cahaya. Karena dekatnya itu maka gerak relatif benda-benda langit tersebut kentara sekali dilihat dari bumi pada bola langit. Planet-planet termasuk bumi, matahari dan bulan yang merupakan satelit bumi, membentuk sebuah sistem yang disebut tata-surya, dengan matahari menjadi pusat sistem.

Dengan berkembangnya ilmu astronomi ditambah pula lagi dengan penggunaan instrumen yang canggih-canggih yang menopang ilmu astronomi itu utamanya teropong bintang dan kamera untuk membuat foto, maka penggunaan istilah bintang tetap itu sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Paham geosentrik yaitu anggapan bumi ini sebagai pusat alam menurut anstronomi mutakhir itu tidak benar.

Bulan mengorbit bumi, bumi berpusing pada sumbunya dan di samping itu bersama-sama dengan planet-planet lain mengorbit matahari sebagai pusat tata-surya. Matahari bersama-sama bintang tetap yang jutaan jumlahnya jutaan mengorbit pusat galaxy Milky Way. Maka jelaslah penamaan bintang tetap sudah tidak benar lagi untuk bintang-bintang yang jauh, yang jaraknya dalam tahunan cahaya itu.

Itu alasan yang pertama. Alasan yang kedua ialah hasil foto bintang-bintang tetap itu dilihat dari bumi pada bola langit dengan instrumen yang sudah canggih, hanya dalam jangka waktu tahunan sudah dapat dilihat bahwa letak bintang-bintang tetap itu tidak tetap lagi jaraknya.

Maka dalam ilmu astronomi perlu membongkar peristilahan tentang nama jenis bintang-bintang. Dalam Seri 007 telah kita janjikan untuk membahas istilah planet, supaya diganti dengan istilah "kawkab", yang diambil dari Al Qura^an, artinya janji dalam seri 007 telah kita tunaikan dalam Seri 084 ini. Peristilahan itu tentu tidak dapat lagi mempergunakan gerak sebagai dasar penamaan jenis bintang. Lalu mempergunakan kriteria apa sebagai dasar pemberian istilah tentang klasifikasi bintang-bintang itu. Syari'at Islam memberikan petunjuk untuk kriteria sebagai dasar klasifikasi bintang-bintang itu. Dalam Al Quran bintang-bintang dibedakan dalam tiga jenis: kawkabun, bentuk jama'nya kawakibun, najmun, bentuk jama'nya nujuwmun dan buruwjun. Adapun kawkabun adalah jenis bintang-bintang yang letaknya dekat dengan bummi, seperti dalam S. Ashshaffat 6: Inna zayyanna ssama-a ddunya bizienati lkawakibi, sesungguhnya Kuhiasi langit yang dekat dunia dengan hiasan kawakib. Kemudian dalam S. An Nur dijelaskan bahwa kawkabun itu tidak mempunyai cahaya sendiri, ia bercahaya karena memantulkan cahaya dari sebuah sumber cahaya. Dengarlah firman Allah dalam S. An Nur 35: Al mishbahu fie zujajatin azzujjatu kaannaha-kawkabun, pelita di tengah kaca dan kaca itu ibarat kawkabun. Ayat itu menggambarkan sebuah pelita yang dikelilingi gelas. Maka tentu permukaan gelas itu memantulkan cahaya pelita, seperti kawkabun yang permukaannya memantulkan cahaya matahari. Jadi bagi bintang-bintang yang menjadi anggota tata-surya dasar pemberian istilah nama jenis itu seharusnya seperti yang diberikan oleh Al Quran: bintang-bintang itu dekat dan tidak mempunyai cahaya sendiri, cahaya yang diperlihatkannya bukan cahaya sendiri melainkan cahaya pantulan dari cahaya matahari. Bahwa bumi bercahaya juga yaitu cahaya pantulan dapat kita lihat di televisi hasil pemotretan dari pesawat ulang-alik. Maka istilah planet atau musafir yang sudah tidak cocok lagi dengan fakta bahwa semua bintang-bintang itu adalah musafir, sudah seharusnyalah diganti dengan istilah kawkab.

Bagaimana dengan istilah bintang tetap? Itupun harus diganti dengan istilah yang dasar penamaan jenis bintang ini menurut Al Quran, yaitu bintang-bintang jenis ini jauh sehingga dapat dipakai sebagai pedoman dalam menentukan arah mata angin, seperti dalam S. Al An'am 97: Wa huwa lladzie ja'ala lakumu nnujuwmu litahtaduw biha fie zhulumati lbirri walbahri, Dan Dialah yang menjadikan bagimu nujum untuk menjadi pedoman dengannya dalam kegelapan malam baik di darat maupun di laut. Dan juga dasar pemberian istilah bintang jenis ini diberikan pula oleh Al Quran dari segi keadaan bintang itu yakni panas menyala. Allah berfirman dalam S. Ath Thariq: An najmu tstsaqib, najmun itu panas meyala, ibarat suluh api atau obor yanng menyala, sebagai fimanNya: Syihabun tsaqib, obor yang menyala. Maka seharusnyalah istilah bintang tetap (fixed star, vaste ster) diganti dengan istilah najmun.

Maka kriteria yang menjadi dasar klasifikasi menurut Syari'at Islam ialah jarak dan keadaan fisik bintang-bintang itu. Tegasnya planet diganti dengan kawkabun yang jaraknya dekat, keadaan fisiknya seperti gelas yang memantulkan cahaya. Bintang tetap (fixed star) diganti dengan najmun yang letaknya jauh, keadaan fisiknya cemerlang, menyala, mempunyai sumber panas sendiri seperti obor. Akan halnya istilah gugus bintang dengan nama jenis galaxy yang dalam bahasa Al Quran disebut buruwjun, tidak ada permasalahan. Boleh tetap dipakai galaxy, namun tentu lebih elok jika memakai istilah Al Quran yaitu buruwjun. WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 20 Juni 1993 [H.Muh.Nur Abdurrahman]



KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan Akal - Iman dan Ilmu")

Kunjungi juga: