Kesimpulan :
Hakikat
dan analisa ayat-ayat di atas menegaskan bahwa dua aksi pengerusakan yang
dilakukan oleh Bani Israil akan terjadi setelah turunnya surat al-Israa’ di
atas.
Realita : Sekarang ini bangsa Yahudi
memiliki daulah di Baitul Maqdis. Mereka banyak berbuat kerusakan di muka
bumi. Mereka membunuhi kaum wanita, orang tua, anak-anak yang tidak mampu
apa-apa dan tidak dapat melarikan diri. Mereka membakar tempat isra’
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan merobek-robek
kitabullah. Mereka melakukan kejahatan di mana-mana hingga mencapai
puncaknya. Mereka menyebarkan kenistaan, kemaksiatan, kehinaan, pertumpahan
darah, pelecehan kehormatan kaum muslimin, penyiksaan dan pelanggaran
perjanjian.
Jadi, aksi pengerusakan yang kedua
sedang berlangsung sekarang dan telah mencapai titik klimaks dan telah mencapai
puncaknya. Sebab tidak ada lagi aksi pengerusakan yang lebih keji daripada yang
berlangsung sekarang.
Adakah aksi yang lebih keji
daripada membakar rumah Alloh?
Adakah aksi pengerusakan yang
lebih jahat daripada merobek-robek kitabullah dan
menginjak-injaknya?
Adakah aksi pengerusakan yang
lebih sadis daripada membunuhi anak-anak, orang tua dan kaum wanita serta
mematahkan tulang mereka dengan bebatuan?
Adakah aksi pengerusakan yang
lebih besar daripada pernyataan perang secara terang-terangan siang dan malam
melawan Islam dan para juru dakwahnya?
Sungguh demi Alloh, itu semua
merupakan aksi pengerusakan yang tiada tara!!!
Lalu Alloh Azza wa Jalla
melanjutkan firman-Nya : “dan untuk membinasakan
sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.
Artinya, hamba-hamba Alloh kelak
akan meruntuhkan apa saja yang dibangun dan dikuasai oleh bangsa Yahudi. Mereka
akan menggoyang benteng Yahudi dan meluluhlantakkan serta meratakannya dengan
tanah. Sebelumnya, tidak pernah disaksikan bangunan-bangunan menjulang tinggi di
tanah Palestina kecuali pada masa kekuasaan Zionis sekarang ini. Gedung-gedung
pencakar langit dan rumah-rumah pemukiman dibangun di setiap jengkal tanah
Palestina yang diberkahi.
Kami katakan kepada mereka :
Dirikanlah terus wahai anak keturunan Zionis, tinggikan bangunan sesukamu!
Sesungguhnya kehancuran kalian di situ dengan izin Alloh. Dan tak lama lagi
kalian akan luluh lantah dan tertimpa bangunan kalian itu! Dan Alloh takkan
memungkiri janjinya : “dan Itulah ketetapan yang pasti
terlaksana”.
Penguasaan Masjidil Aqsha tidak
disebutkan pada kali yang pertama dan disebutkan pada kali yang kedua. Sebab
penguasaan Masjidil Aqsha oleh kaum muslimin akan berakhir. Kalaulah belum
berakhir berarti penguasaan yang kedua merupakan lanjutan dari yang pertama.
Akan tetapi berhubung penguasaan Masjidil Aqsha yang pertama akan berakhir, maka
penguasaan untuk yang kedua kalinya merupakan peristiwa baru. Dan itulah realita
yang terjadi! Penguasaan pertama telah berakhir sesudah bangsa Yahudi menguasai
al-Quds serta beberapa wilayah tanah Palestina lainnya dalam satu
serangan yang sangat sporadis pada tahun 1967, orang-orang menyebutnya tahun
kekalahan. Sebelumnya pada tahun 1948 mereka sebut dengan tahun
kemalangan.
Penguasaan yang pertama berakhir
disebutkan karena adanya faktor penghalang yang menghalangi kaum muslimin untuk
menguasainya. Penghalang itu merupakan musuh bagi Islam dan kaum muslimin. Dan
cukuplah Yahudi sebagai musuh bebuyutan yang sangat menentang Islam, kaum
muslimin dan para pembela Islam.
Maka kita harus membebaskan tanah
kita yang dirampas dan membuat perhitungan dengan mereka serta menyalakan api
kebencian terhadap mereka!!! Sudah tergambar pada wajah mereka tanda-tanda
kemalangan dan kehinaan. Kaum muslimin akan kembali menguasai Masjidil Aqsha
–insya Alloh- sebagaimana kaum salafus shalih menguasainya pertama kali.
Sebab kehancuran kedua yang telah dijanjikan oleh Alloh dalam firman-Nya :
“dan apabila
datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang
lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid,
sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama”.
Kita sedang menanti peristiwa itu
sebagai kebenaran janji Alloh dan kebenaran berita-berita Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Pada hari itu kaum muslimin bergembira
dengan pertolongan dari Alloh Azza wa Jalla.[3]
[3]. Disarikan dari “Jama’ah-Jama’ah
Islamiyah Ditimbang Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah” (terj. Al-Jama’at
al-Islamiyyah fi Dhou’il Kitaabi was Sunnah), karya Syaikh Salim bin
Ied al-Hilaly, pent. Ust. Abu Ihsan al-Atsari, Pustaka Imam Bukhari, Jilid I,
cet. I, Juni 2003, hal. 90-108.
Tasawuf, Pluralisme, & Pemurtadan.
- H Hartono Ahmad Jaiz -
Kunjungi juga:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar