Beberapa komentar
tentang tasawwuf akan menjelaskan bahwa sebenarnya tasawwuf itu berasal
dari luar Islam. Berikut ini komentar para ulama dan ilmuwan yang menyoroti
tasawwuf.
Syaikh Ihsan Ilahi Dhahir
rahimahullah menulis:
"Ketika kita
memperhatikan dengan teliti tentang ajaran sufi yang pertama dan terakhir,
serta pendapat-pendapat yang dikutip dan diakui oleh mereka di dalam
kitab-kitab sufi, baik yang lama maupun yang baru, maka kita akan melihat
dengan jelas perbedaan yang jauh antara sufi dengan Al-Quran dan As-Sunnah.
Begitu juga kita tidak melihat adanya bibit-bibit sufi di dalam perjalanan
hidup Nabi saw dan para sahabat beliau, yang mereka itu adalah (sebaik-baik)
pilihan Allah dari kalangan makhluk-Nya. Tetapi kita bisa melihat bahwa sufi
diambil dari percikan kependetaan Nasrani, Brahmana (Hindu), Yahudi, dan
kezuhudan Agama Budha." (Ihsan Ilahi Dhahir, At-Tashawwuf al-Mansya' wal
Mashadir hal 27, seperti dikutip Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan,
Haqiqatut Tashawwuf / diterjemahkan menjadi Hakikat Tasawuf, Pustaka As-Salaf,
Cet I, 1998/ 1419H, hal 19).
Komentar ilmuwan lainnya
hampir sama.
"Jelas bahwa tasawwuf
memiliki pengaruh dari kehidupan para pendeta Nasrani, mereka suka memakai
pakaian dari bulu domba dan berdiam di biara-biara. Dan ini banyak sekali.
Islam memutuskan kebiasaan ini ketika Islam membebaskan setiap negeri
dengan tauhid." (Dr Shobir Tho'imah, Ash-Shufiyyah Mu'taqadan wa Maslakan,
Riyadh, Cet I, 1985M/ 1405H, hal 25, ibid hal 19).
Lebih jelas lagi,
komentar berikut ini: "Sesungguhnya tasawwuf itu adalah tipuan/ makar paling
hina dan tercela. Syetan telah membuatnya untuk menipu para hamba Allah
dan memerangi Allah 'Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Sesungguhnya tasawwuf
adalah topeng kaum Majusi agar ia terlihat sebagai orang yang Rabbani (taat
pada Tuhan), bahkan juga topeng semua musuh agama ini (Islam). Bila diteliti
ke dalam akan ditemui di dalamnya (ajaran kaum sufi, ed) ada Brahmaisme,
Budhisme, Zaratuisme, Platoisme, Yahudisme, Nasranisme, dan Paganisme/
Berhalaisme." (Syaikh Abdur Rahim Al-Wakil rahimahullah, Mashra'ut Tashawwuf,
hal 19, ibid hal 19).
Syaikh Al-Fauzan
menyimpulkan:
"Jelaslah bahwa sufi
adalah ajaran (dari) luar yang menyusup ke dalam Islam. Hal itu tampak dari
kebiasaan-kebiasaan yang dinisbatkan kepadanya. Sufi adalah suatu ajaran yang
asing (aneh) di dalam Islam dan jauh dari petunjuk Allah 'Azza wa
Jalla.
Yang dimaksud dengan
kalangan sufi yang belakangan adalah mereka yang sudah banyak berisi dengan
kebohongan. Adapun sufi yang dahulu, mereka masih berada di dalam keadaan
netral, seperti Al-Fudhail bin 'Iyadh, Al-Junaid, Ibrahim bin Adham dan
lain-lain." (Syaikh Dr Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, terjemah Hakikat Tasawwuf,
hal 20).
Ucapan-ucapan Orang Shufi
Sangat Tidak Layak
Ibnul Jauzi (w 597H)
dalam Kitabnya, Talbis Iblis mencontohkan betapa ekstrimnya bualan orang sufi,
hingga melewati batas dan menentang Allah SWT.
Karena orang-orang sufi jauh dari ilmu, ungkap Ibnul Jauzi, maka perhatian mereka tertuju kepada amal, lalu mereka sepakat menunjukkan kelemahlembutan yang menyerupai karamah, lalu mereka mengeluarkan berbagai macam bualan.
Diriwayatkan, Abu Yazid
Al-Busthamy (tokoh sufi) berkata, "Aku ingin andaikata saja hari Kiamat sudah
tiba, sehingga aku bisa memancangkan kemah di Neraka Jahannam."
"Mengapa begitu wahai
Abu Yazid?" tanya seseorang.
Dia menjawab, "Sebab
aku tahu bahwa jika Jahannam melihatku, maka apinya akan padam, sehingga aku
bisa menolong orang lain."
Abu Musa As-Syibli
berkata, saya mendengar Abu Yazid berkata: "Apabila telah ada hari Kiamat dan
Dia memasukkan ahli surga ke surga dan ahli neraka ke neraka, maka mintakanlah
padaNya untuk memasukkanku ke neraka. Lalu ditanyakan padanya (Abu Yazid),
kenapa? Dia berkata: "Sehingga para makhluk tahu bahwa kebaikan-Nya dan
kelemahlembutanNya di dalam neraka menyertai para wali-Nya."
Komentar Ibnul Jauzi:
"Benar-benar perkataan yang sangat menjijikkan, karena dia telah menghinakan
apa yang diagungkan Allah, yaitu perintah-Nya kepada Neraka. Padahal Allah
juga telah panjang lebar menjelaskan masalah Neraka ini, seperti
firman-Nya:
”Maka peliharalah diri kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu." (Al-Baqarah: 24).
”Maka peliharalah diri kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu." (Al-Baqarah: 24).
“Apabila
Neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar
kegeramannya dan suara nyalanya." (QS Al-Furqan/25:12).
Dari Abu Hurairah ra,
dia berkata,
"Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya neraka kalian ini, yang dinyalakan dengan Bani Adam, merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panas Jahannam."
"Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya neraka kalian ini, yang dinyalakan dengan Bani Adam, merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian dari panas Jahannam."
Para sahabat berkata,
"Demi Allah, itu benar-benar sudah cukup wahai Rasulullah."
Beliau bersabda,
"Jahannam itu dilebihkan enam puluh tujuh bagian, yang semuanya seperti itu panasnya." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Dari Ibnu Mas'ud, dari
Nabi saw, beliau bersabda:
Yu'taa bijahannama yaumaidzin lahaa sab'uuna alfa zimaamin ma'a kulli zimaamin sab'uuna alfa malakin yajurruunahaa."
Yu'taa bijahannama yaumaidzin lahaa sab'uuna alfa zimaamin ma'a kulli zimaamin sab'uuna alfa malakin yajurruunahaa."
"Jahannam didatangkan pada hari itu ia memiliki tujuh puluh
ribu belenggu, serta setiap belenggu dijaga 70.000 malaikat yang menyeretnya."
(HR Muslim). (Talbis Iblis, hal 341-342).
Dari Al-Junaid bin
Muhammad, dia berkata, "Kemarin ada seseorang yang ingin bertemu denganku, yang
berasal dari Bustham. Dia bercerita tentang Abu Yazid Al-Busthami yang pernah
berkata, "Ya Allah, seandainya sudah ada dalam pengetahuan-Mu bahwa Engkau
akan mengadzab seseorang dari hamba-Mu dengan api neraka, maka agungkanlah
penciptaanku, agar dengan keberadaanku Engkau tidak mengadzab
selainku."
Komentar Ibnul Jauzi,
"Dari semua pernyataannya ini bisa dilihat secara jelas bagaimana keburukan
perangainya. Terutama bualannya yang terakhir, sangat nyata kesalahannya,
yang bisa dilihat dari tiga segi:
1. Tentang perkataannya,
"Seandainya sudah ada dalam pengetahuan-Mu", kita sudah tahu bahwa Allah pasti
akan mengadzab makhluk dengan api neraka, dan Allah telah menyebutkan sebagian
nama-nama makhluk itu, seperti Fir'aun dan Abu Lahab. Maka bagaimana mungkin
dikatakan "Seandainya", jika sudah ada kepastian dan keputusan?
2. Tentang
perkataannya, "Maka agungkanlah penciptaanku, agar dengan keberadaanku Engkau
tidak mengadzab selainku", berarti dia juga berbelas kasihan terhadap
orang-orang kafir. Masih mendingan jika dia berkata, "Agar aku dapat membela
orang-orang Mukmin." Yang pasti, bualannya itu merupakan kelancangan terhadap
rahmat Allah.
3. Dia tidak tahu
ketetapan Allah terhadap api neraka atau terlalu merasa yakin terhadap
kesabaran dirinya. Padahal kedua-duanya tidak ada dalam dirinya. (Talbis Iblis,
hal 246, terjemahannya --Perangkap Syetan-- Pustaka Al-Kautsar Jakarta, cet
I, hal 288).
Ibnul Jauzi
mencontohkan bualan sufi lain lagi sebagai berikut:
Ibnu Aqil pernah
menuturkan dari Asy-Syibli (tokoh sufi), bahwa dia berkata, sesungguhnya
Allah telah berfirman:
"Dan
kelak Rabbmu memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas."
(Ad-Dhuha: 5). Demi Allah, Muhammad saw tidak ridha karena di
dalam neraka ada seorang dari ummatnya."
Kemudian dia
(Asy-Syibli) berkata, "Sesungguhnya Muhammad memintakan syafa'at bagi
ummatnya, lalu aku memintakan syafa'at setelah beliau, bagi orang-orang yang
ada di dalam neraka, sehingga di sana tidak menyisa seorangpun."
Ibnu Aqil berkata,
"Anggapan Asy-Syibli yang pertama tentang Rasulullah saw (tidak ridha karena
di dalam neraka
ada seorang dari ummatnya) adalah dusta, karena beliau ridha terhadap adzab yang dijatuhkan kepada orang-orang yang jahat. Dalam hubungannya dengan khamr (minuman keras) saja beliau sudah melaknat sepuluh orang. Maka bagaimana mungkin ada anggapan bahwa beliau tidak ridha terhadap adzab yang dijatuhkan kepada orang-orang dzalim? Tentu saja ini anggapan yang salah dan menunjukkan kebodohan (tokoh sufi tersebut) terhadap syari'at.
Bualannya
(Asy-Syibli-tokoh sufi) bahwa dia bisa memintakan syafa'at bagi semua orang,
yang berarti melampaui Rasulullah saw, jelas merupakan kekafiran. Sebab selagi
orang memastikan dirinya termasuk penghuni surga, maka dia justru menjadi
penghuni neraka.
Lalu bagaimana mungkin
dia membual dan memberikan kesaksian atas dirinya, bahwa kedudukannya lebih
tinggi daripada kedududukan Nabi dan bahkan melebihi kapasitas seorang Nabi
yang memintakan syafa'at?
Ibnu Aqil berkata, yang
mungkin aku punyai untuk melibas para ahli bid'ah adalah mulutku dan hatiku.
Seandainya kemampuanku meluas ke dalam pedang pastilah aku aliri bumi
dengan darah orang. (Talbis Iblis, hal 248, terjemahannya hal 290).
Diriwayatkan dari Abul
Abbas bin Atha', dia berkata, "Aku membaca Al-Quran, namun tidak kutemukan
keterangan di dalamnya bahwa Allah menyebutkan seorang hamba, memujinya dan
menimpakan cobaan kepadanya. Maka aku memohon kepada Allah agar Dia menimpakan
cobaan kepadaku. Tak seberapa lama setelah itu, aku kehilangan duapuluh orang
anggota keluarga, semuanya meninggal dunia."
Bahkan, menurut
kisahnya, hartanya juga ludes, tak seorangpun keluarganya yang masih hidup dan
dia menjadi gila. Ketika dia sudah sembuh, yang pertama kali dia ucapkan
adalah: "Benar apa yang kukatakan. Rupanya Engkau (Allah) telah menimpakan
cobaan kepadaku secara semena-mena. Aku harus menanggung kehendakMu. Namun
sangat mencengangkan, karena aku masih bisa bersabar."
Ibnul Jauzi
berkomentar, "Karena kebodohanlah yang mendorong Abul Abbas (orang sufi)
memohon cobaan atas dirinya. Berarti dia merasa hebat dan kuat. Yang seperti
ini merupakan tindakan yang amat buruk. Apa yang dia katakan terhadap Allah
sama sekali tidak layak."
Abul Hasan Ali bin
Ibrahim Al-Hushri (orang sufi) berkata: "Sejak lama aku tidak berlindung
dari syetan jika aku hendak membaca Al-Quran. Karena siapakah syetan yang
berani mendekati firman Allah?"
Komentar Ibnul Jauzi,
"Tentu saja perkataannya ini bertentangan dengan firman Allah yang
memerintahkan:
"Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaklah kamu meminta
perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk." (An-Nahl: ayat
98)." (Talbis Iblis, hal 249, terjemahannya, hal 290).
Demikianlah sebagian
dari bualan orang sufi yang diriwayatkan dan dikomentarai oleh Ibnul Jauzi,
yang pada teks aslinya diriwayatkan dengan nama-nama periwayatnya
sebagaimana yang biasa diterapkan dalam periwayatan hadits yang disebut sanad.
Problema di masyarakat, nyleneh
pun dianggap saleh
Kata-kata orang sufi itu
secara sekilas menunjukkan kekhusyu'an, keikhlasan, ketawadhu'an; namun
hakekatnya justru merupakan bualan yang sangat jauh dari ajaran Islam, bahkan
menentang ayat-ayat Allah SWT. Di sinilah salah satu bentuk kerancuan sufisme
yang menjauhkan Islam dari pemahaman yang benar, namun sekaligus menjerat orang
untuk tercebur dalam kesesatannya tanpa terasa, bahkan menganggap bahwa mereka
telah masuk pada tahapan kesalehan. Celakanya, label kesalehan itupun
disandangkan kepada orang sufi, sehingga orang sufi diidentikkan dengan orang
saleh, lantas tahap lebih atasnya lagi adalah wali, yang kadang tingkahnya
aneh-aneh, atau nyleneh, atau bahkan sangat melanggar syari'at pun tetap mereka
anggap saleh. Karena wali telah mereka anggap di luar jangkauan orang awam,
hingga keanehannya itu justru menandakan kewaliannya, menurut
mereka.
Kesesatan telah mereka
warisi dari generasi ke generasi, hingga kadang-kadang menyeret orang intelek,
yang akibatnya akan lebih menyeret banyak orang lagi. Contoh nyata, seorang
profesor bernama Dawam Rahardjo mengatakan bahwa Gus Dur (Abdurrahman
Wahid) adalah wali dan sangat brilliant sekali. Ungkapan Profesor Dawam
Rahardjo itu bukan hanya diucapkan di kalangan terbatas, namun disiarkan
secara nasional, karena disiarkan oleh televisi swasta yang mewawancarainya,
yakni ANteve, Selasa pagi 26 Oktober 1999M/ 16 Rajab 1420H. Dalam wawancara
itu, Profesor Dawam Rahardjo selaku mantan atasan Gus Dur, menurut pewawancara ANteve, ditanya atau dimintai komentar-komentarnya dengan adanya
Gus Dur terpilih sebagai presiden Indonesia yang ke-empat, pekan lalu
(20/10 1999), yang kemudian siang itu (26/10 1999) akan ada pengumuman
tentang susunan kabinet dari Presiden Gus Dur.
Kenapa ungkapan Prof Dawam Rahardjo --bahwa Gus Dur itu wali-- di sini dipersoalkan?
Ini sekadar contoh soal, bahwa orang yang berbicara tentang Al-Quran dengan sangat ngawur seperti Gus Dur, ternyata dinyatakan secara terang-terangan oleh seorang profesor, sebagai wali dan sangat brilliant sekali.
Kenapa ungkapan Prof Dawam Rahardjo --bahwa Gus Dur itu wali-- di sini dipersoalkan?
Ini sekadar contoh soal, bahwa orang yang berbicara tentang Al-Quran dengan sangat ngawur seperti Gus Dur, ternyata dinyatakan secara terang-terangan oleh seorang profesor, sebagai wali dan sangat brilliant sekali.
Apa alasan Profesor Dawam
rahardjo menggelari Gus Dur sebagai wali?Di antaranya Profesor Dawam Rahardjo beralasan, Gus Dur
belajar Bahasa Inggeris cepat sekali, dan pidatonya dengan bahasa Inggeris
bagus sekali.
Apa kaitannya antara
bagusnya pidato bahasa Inggeris seseorang denga kewalian? Hanya profesor
Dawamlah yang mungkin bisa menjawab. Mestinya, kewalian yang disandangkannya
itu lebih pantas dikaitkan dengan bagaimana orang yang digelari wali itu
dalam memahami dan mengamalkan Al-Quran. Coba kita simak, satu bukti nyata
sebagai berikut:
Abdurrahman Wahid
alias Gus Dur Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) menulis
artikel berjudul Antara Asas Islam dan Asas Pancasila di koran Media Indonesia,
Rabu 17 Maret 1999, halaman 6.
Di antaranya Abdurrahman
Wahid menulis: "Bahkan, Allah memerintahkan manusia untuk beragam agama,
"Bagimu agamamu dan bagiku agamaku" (lakum dienukum wa liya dien). Bahkan, dalam
hal perbedaan agama, kita diperintahkan berbeda keyakinan, tetapi boleh
bersama-sama dalam hal perbuatan. "Bagi kami amal perbuatan kami bagi kamu
amal perbuatan kamu." (Walanaa a'maalunaa walakum a'maalukum)."
Demikian petikan
tulisan Abdurrahman Wahid/ Gus Dur. Tulisan itu mari kita cermati, apakah
memang Gus Dur pantas digelari wali dari segi kealimannya tentang ayat-ayat
Al-Quran.
Tentang lakum dienukum
wa liya dien, (bagimu agamamu, dan bagiku agamaku); apakah benar itu suruhan
Allah untuk beragam agama? Kalau cara memahaminya begitu, seperti pemahaman
Gus Dur itu, maka berarti orang-orang kafir pun akan masuk surga, karena
mengikuti perintah Allah untuk beragam agama.
Kemudian Gus Dur juga
menyamarkan ayat 139 Surat Al-Baqarah, "Wa lanaa a'maalunaa wa lakum a'maalukum
(bagi kami amal perbuatan kami, dan bagi kamu amal perbuatan kamu) dengan
semaunya, dengan ungkapan: "Kita diperintahkan berbeda keyakinan, tetapi
boleh bersama-sama dalam hal perbuatan."
Benarkah surat
Al-Baqarah ayat 139 itu merupakan perintah agar berbeda keyakinan, tetapi boleh
bersama-sama dalam perbuatan?
Kita simak Tafsir Ibnu
Katsir:
"Lanaa a'maalunaa wa
lakum a'maalukum" (Bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamu" artinya
kami berlepas diri dari kamu sekalian (barooun minkum) dan dari apa yang kalian
sembah, sedang kalian lepas-diri dari kami. Sebagaimana Allah berfirman dalam
ayat yang lain --QS Yunus/ 10:41-- (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid I, halaman 235),
sebagaimana firman Allah Ta'ala --QS Al-Kafirun/ 109: 1-6). Juga QS
Al-Mumtahanah/ 60:4:
"Sesungguhnya kami
berlepas-diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami
ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan
kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja." (QS
Al-Mumtahanah/ 60:4) (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 2, halaman 509).
Betapa jelasnya
keterangan Ibnu Katsir, mufassir yang diakui Dunia Islam itu dalam masalah ini,
dan betapa jauhnya penyamaran yang dilakukan Abdurrahman Wahid yang pernah jadi
juri Festival Film Indonesia itu. (Lihat: Hartono Ahmad Jaiz, Bahaya Pemikiran
Gus Dur, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, cetakan kelima, Mei 1999, halaman
41-44).
Pantaskah seorang
Profesor Dawam Rahardjo menjuluki Gus Dur yang telah menafsiri Al-Quran dengan
ro'yu (pendapat) yang sangat melenceng --ditimbang dengan tafsir yang diakui
Dunia Islam-- itu sebagai wali yang brilliant (sangat cerdas) sekali?
Untuk mengatakan bahwa
seseorang itu brilliant sekali atau cerdas sekali, bila yang mengatakan itu
seorang profesor, sebenarnya sudah layak dipercaya. Tetapi, berhubung
perkataan sang profesor yang menggelari Gus Dur sebagai wali itu terbukti hanya
kata-kata tak bermakna, maka kini perlu dibuktikan pula, benarkah Gus Dur itu
brilliant sekali seperti yang dikatakan Profesor Dawam Rahardjo?
Dalam kasus yang
berkaitan dengan kondisi dan situasi saat sang profesor itu diwawancarai
(26/10 1999), tersebar berita bahwa Gus Dur pada awal pemerintahannya,
sebagai presiden Indonesia, ia mengatakan akan membuka hubungan ekonomi dengan
Israel. Sedang untuk hubungan diplomatik, belum dibuka hubungan.
Dalam kondisi ekonomi
dan keamanan yang masih sangat belum mantap, istilahnya masih krisis, ditambah
hubungan antar agama di Indonesia sendiri terjadi bunuh-bunuhan antara Muslimin
dan orang Kristen ataupun Katolik seperti di Ambon dan Maluku Tenggara,
bahkan di Jakarta seperti kasus Ketapang Jakarta Pusat, masih merupakan
dengan Israel. Semua orang tahu, Israel itu musuh orang Islam sedunia, karena
Israel masih mengangkangi Masjidil Aqsha, tempat suci ke-tiga bagi ummat
Islam sedunia. Juga Israel adalah pembantai yang amat sadis terhadap ummat
Islam, baik di dalam masjid sedang shalat maupun di luar, penjajah yang
sangat licik, dan pencaplok wilayah-wilayah Palestina. Dalam hal berdagang
atau berhubungan dengan masyarakat Islam, Israel itu sangat curang sambil
memerangi Islam.
Kita simak bukti dari
pengamatan seorang yang cukup terpercaya dalam kasus ini sebagai
berikut:
Dr Hidayat Noer Wahid
pengamat Timur Tengah mencontohkan tingkah Yahudi Israel. Dengan dibukanya
kedutaan Israel di Mesir, ternyata Yahudi bisa menekan hingga mampu menghapus
ayat-ayat Al-Quran yang mengecam Yahudi di pelajaran sekolah. Menghapus peta
Palestina, hingga adanya hanya Israel. Yahudi mendukung penggalakan turisme,
namun turis Yahudi yang datang (ke Mesir) hanya gembel, hingga tak menambah
pendapatan bagi Mesir. Malahan 52 orang Yahudi yang ketahuan masuk ke Mesir
memakai paspor Belanda terbukti semuanya mengidap AIDS.
Dari segi pertanian,
Israel menjual pupuk ke Mesir, namun tahu-tahu akibatnya tanah jadi tandus.
Itu di samping sampo Israel yang bikin botak rambut, dan tanaman yang
didatangkan dari Israel menyebarkan hama. (H Hartono Ahmad Jaiz, Bila Hak
Muslimin Dirampas, Pustaka Al-Kautsar Jakarta, 1994, halaman 99-100).
Untuk memberi gambaran
latar belakang, bagaimana sikap ummat Islam Indonesia berhadapan dengan
orang-orang tertentu yang pro Zionis Israel, kita simak kasus film propaganda
Yahudi --Zionis Israel-- berjudul Schindler's List tahun 1994 yang ditolak
keras oleh para tokoh Islam, namun ada orang-orang tertentu yang membela film
Zionis Yahudi Israel itu, sebagai berikut:
Contoh kecil, dalam
kasus pro kontra tentang film propaganda Yahudi, Schindler's List, tercatat
nama-nama pembela film Zionis itu. Setidaknya, yang telah menyuara setuju
untuk diedarkan adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Umar Khayam (dua
budayawan ini diwawancarai ANteve di rumah sakit, Abdurrahman Wahid dioperasi
matanya namun sempat menyuarakan persetujuan) dan Profesor Dawam Rahardjo
yang dimuat Republika. Mereka itu dinilai oleh KH Hasan Basri (Ketua Umum MUI
--Majelis Ulama Indonesia) sebagai orang-orang yang berpikiran bebas, sampai
pendapat yang aneh-aneh sekalipun. (Ibid, 1994, hal 96-97).
Pembaca bisa menilai,
seberapa brilliant-nya Gus Dur yang kini mempresideni penduduk Indonesia yang
berjumlah 210 jutaan jiwa yang hampir 90% Muslim ini. Apakah pupuk Israel yang
bikin tandus tanah, sampo Israel yang bikin botak kepala, dan tanaman-tanaman
yang diekspor dari Israel dengan menyebarkan hama, serta turis-turis gembel
dari Israel yang semuanya ternyata mengidap penyakit paling berbahaya dan tak
bisa disembuhkan yakni AIDS itu merupakan barang-barang dagangan yang sangat
diperlukan oleh 210 juta penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim ini?
Belum lagi upaya menghapus ayat-ayat Al-Quran dari kurikulum sekolah yang
Zionis tekankan. Brilliant sekalikah orang yang awal-awal kebijakannya justru
tidak punya pertimbangan pasar sama sekali itu?
Dari sisi lain, mari
kita cermati sosok Gus Dur yang dia itu presiden, kiai, dan orang terkenal
secara internasional. Dalam hal memandang Israel yang menjajah dan
mencaplok tanah-tanah Palestina, Gus Dur selaku presiden mesti merujuk pada
undang-undang dasar dan perundangan serta peraturan yang dipakai di
Indonesia. Di antaranya ditegaskan dalam Mukaddimah Undang-undang Dasar 1945
bahwa "segala bentuk penjajahan harus dihapuskan."
Orang yang faham betul
tentang kepenjajahan Israel terhadap Palestina dan tentang sikap Indonesia
seharusnya, di antaranya adalah Menteri Luar Negeri Ali Al-Atas yang lalu.
Bisa kita simak sikapnya sebagai penanggung jawab politik luar negeri sampai
menjelang kepemimpinan Gus Dur, sebagai berikut:
Dalam acara dengar
pendapat dengan Komisi I DPR RI, 5 Juli 1999, Menlu Ali Al-Atas menegaskan,
Indonesia menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Alasannya,
negara Israel merupakan negara kolonial, sehingga pembukaan hubungan
diplomatik dengan Israel merupakan pelanggaran terhadap konstitusi (UUD
1945). (Adian Husaini, Menimbang Hubungan Dagang RI-Israel, Harian
Republika, Jakarta, Jum'at 29 Oktober 1999M/ 19 Rajab 1420H, halaman 6).
Lantas, bagaimana
seharusnya sebagai figur kiai atau tokoh Islam. Kita simak ayat-ayat
Al-Quran dan hadits-hadits yang sangat banyak mengecam Yahudi Bani Israel
karena tingkahnya yang jahat, curang, paling loba sedunia, sombong, berkhianat,
berbuat makar dan sebagainya. Dan kita lihat sejarah Nabi Muhammad SAW,
bagaimana Nabi SAW memperlakukan Yahudi Bani Israel. Nabi SAW mau berjanji
damai dengan Yahudi, hingga ada ikatan janji antara Yahudi dan Muslimin.
Namun kemudian orang-orang Yahudi berkhianat, bahkan tetap memusuhi Muslimin,
maka Nabi SAW mengadakan pengusiran terhadap Yahudi Bani Qainuqa' (setelah
perang Badr 2 H), pengusiran Yahudi Bani Nadhir setelah perang Uhud 3 H.
Selanjutnya,
pengkhianatan dan permusuhan yang paling parah dilakukan oleh Yahudi Bani
Quraidhah, maka seluruh lelaki dewasa Yahudi Bani Quraidhah selain anak-anak
dan perempuan dihukum bunuh semua/ potong leher, akibat ganasnya
pengkhianatan terhadap Muslimin dan penyerangan terhadap Muslimin secara
khianat. Keberangkatan untuk menyerbu Bani Quraidah (th 5 H) itu sendiri
langsung dibangkitkan dan dikomandoi oleh Malaikat Jibril dengan barisan
malaikat, ketika Nabi SAW baru saja meletakkan senjata dari Madinah. Peristiwa
itu setelah perang Khandaq.
Ada peristiwa terkenal
dalam keberangkatan untuk menyerbu Bani Quraidhah yang kemudian Muslimin
mengepungnya sampai 15 hari, hingga Yahudi khianat itu menyerah. Dalam
perjalanan, Malaikat Jibril berjalan dalam sebuah prosesi para malaikat,
sementara Rasulullah Saw membuntuti di belakangnya beserta orang-orang
Muhajirin dan Anshar. Saat itu beliau bersabda kepada para sahabat:
"Laa
yusholliyanna ahadukumul 'ashro illaa fii Banii Quraidhata"
"Janganlah
sekali-kali seseorang di antara kalian shalat ashar kecuali di Bani
Quraidhah." (HR Al-Bukhari /946 dari Ibnu Umar, Muslim, Ibnu Hibban,
Al-Baihaqi, shahih).
Seketika itu pula mereka
memenuhi perintah beliau dan bangkit menuju Bani Quraidhah. Mereka masuk waktu
ashar ketika masih di perjalanan. Sebagian ada yang berkata, "Kami tidak akan
shalat ashar kecuali setelah tiba di Bani Quraidhah seperti yang
diperintahkan kepada kita." Sehingga mereka mengerjakan shalat ashar itu
setelah shalat isya'.
Sementara yang lain ada
yang berkata, "Yang beliau maksudkan dari kita bukan itu tetapi agar kita
segera keluar, karena itu mereka melakukan shalat ashar di tengah perjalanan,
tetapi beliau tidak menegur satupun di antara dua golongan ini.
Para fuqaha' saling
berbeda pendapat antara dua golongan ini. Golongan pertama berkata, mereka yang
mengakhirkannya adalah yang benar. Sekiranya kami bersama mereka, tentu kami
akan mengakhirkannya seperti yang mereka lakukan dan kami tidak akan
mengerjakan shalat ashar kecuali setelah tiba di Bani Quraidhah, karena
patuh kepada perintah beliau dan meninggalkan ta'wil yang bertentangan dengan
dhahir.
Golongan lain berkata,
"Mereka yang shalat ashar pada waktunya di tengah jalan dan yang lebih dahulu
pergi adalah orang-orang yang mendapatkan fadhilah. Mereka bersegera
melaksanakan perintah beliau dan segera mencari keridhaan Allah dengan
shalat pada waktunya, kemudian mereka bersegera menghadapi musuh. Jadi,
mereka mendapatkan fadhilah jihad, fadhilah shalat pada waktunya, dan memahami apa yang dimaksudkan dari perintah
tersebut." (Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Zaadul Ma'aad, jilid III, halaman
118-120).
Setelah pengepungan
terhadap benteng Bani Quraidhah berlangsung 15 hari, dan Nabi SAW menawarkan
3 syarat namun tidak ada yang dimaui oleh Bani Quraidhah, kemudian kaum
Yahudi Bani Quraidhah yang sangat jahat permusuhannya terhadap Islam ini
menyerah. Ekskusi pun dilakukan, diserahkan Rasulullah SAW kepada Sa'd
bin Mu'adz, yaitu hukuman bunuh/ dipenggal lehernya bagi setiap laki-laki
Bani Quraidhah, sedangkan anak-anak dan wanita dijadikan tawanan, dan harta
benda mereka dibagi. Lalu nabi SAW bersabda kepada Sa'd, "Engkau telah
memutuskan tentang diri mereka dengan hukum Allah dari atas langit yang
tujuh." (Zaadul Ma'aad, jilid III, halaman 122).
Sebelum eksekusi, ada
beberapa orang di antara mereka yang masuk Islam, sedangkan Amr bin Sa'd,
salah seorang pemimpin Bani Quraidhah melarikan diri dan tidak diketahui ke
mana perginya. Sebelumnya ia tidak mau bergabung dengan mereka untuk
melanggar perjanjian. Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh setiap
lelaki (dewasa) yang pisau cukur telah ditarik atas (kumis)nya, adapun yang
belum tumbuh (kumis), maka dimasukkan ke golongan anak-anak (tidak
dibunuh). Lalu digalilah parit-parit untuk mereka di pasar Madinah, dan
dipenggallah leher-leher mereka, jumlahnya antara 700 sampai 900 orang. Tidak
ada seorang perempuan pun yang dibunuh kecuali satu wanita yang dipenggal
lehernya, karena dia pernah melemparkan batu penggilingan ke kepala
Suwaid bin Ash-Shamit hingga
meninggal dunia. Mereka digiring ke parit-parit serombongan-serombongan...
(Zaadul Ma'aad, halaman 123).
Perang (pengusiran
terhadap Yahudi) Bani Qainuqa' terjadi setelah perang Badr, perang
(pengusiran terhadap Yahudi) Bani Nadhir setelah perang Uhud, dan perang
(pembunuhan seluruh lelaki dewasa Yahudi pengkhianat) Bani Quraidhah setelah
perang Khandaq.
Permusuhan Yahudi
terhadap ummat Islam dari awal sangat kerasnya, hingga Nabi SAW langsung
dikomandoi oleh malaikat Jibril dalam keberangkatannya menuju ke Bani
Quraidhah.
Hadits tentang perang
terhadap orang-orang Yahudi Bani Quraidhah dan penawanan para wanita serta
anak-anak mereka, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi (Fathul
Bari, 7/475 no. 4122) dan Muslim dalam bab Hukum orang yang memerangi dan
mengingkari janji, dari Aisyah, (nomor 1154 Mukhtashar Al-Mundziri),
dikeluarkan pula oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam Zaadul Ma'aad (3/ 129).
Dalam masa sekarang
pun, menghadapi Israel yang menjajah, membantai, dan mencaplok tanah-tanah
Palestina, dan menguasai Masjidil Aqsha tempat suci yang ketiga setelah Makkah
dan Madinah bagi Muslimin sedunia itu telah difatwakan oleh para ulama secara
internasional. Bahkan pemerintah Indonesia sendiri ikut pula memfatwakan
masalah Israel dalam kaitannya dengan Palestina itu. Kita simak bukti
berikut:
Profesor Ibrahim Hosen
(kini Ketua Komisi Fatwa MUI --Majelis Ulama Indonesia) selaku wakil menteri
agama Indonesia menandatangani Fatwa Ulama Internasional tentang haramnya
mengakui dan berdamai dengan Yahudi Israel.
Tandatangan utusan
Indonesia itu terpampang paling jelas dalam dokumen yang dibukukan dengan judul
Fatwa 'Ulama' Al-Muslimin bitahriimit Tanaazuli 'an ayyi juz'in min Falasthien
yang diterbitkan oleh Jam'iyyah Al-Ishlah Al-Ijtima'iyyah, Kuwait 1410H/
1990M.
Fatwa haramnya berdamai
dengan Yahudi dan larangan mengakui Yahudi Israel itu disepakati oleh ulama
pada Konferensi Negara-negara Islam di Pakistan 1968.
Alasan haramnya
berdamai dengan Israel, menurut fatwa ini, karena Yahudi Israel itu merampas
dan menyerang, maka berdamai dengan perampas itu dilarang syari'at Islam.
Sebab berarti mengakui bolehnya perampas itu merampas, dan mengakui hasil
rampasannya itu milik perampas. Maka tidak boleh orang Muslim berdamai
dengan Yahudi yang melanggar hak itu. Dan hal itu akan memungkinkan tetapnya
mereka menjadi negara di bumi Muslimin yang disucikan. Bahkan wajib atas
Muslimin semuanya untuk berjuang memboikot kekuatan mereka demi membebaskan
negeri-negeri Palestina dan Arab dan menyelamatkan Masjidil Aqsha serta
tempat-temat suci Islam lainnya dari tangan perampas. Seluruh Muslimin
wajib berjihad untuk mengembalikan negeri-negeri itu dari perampas."(Fatwa
Ulama' Al-Muslimin..., hal 71, dan copian teks aslinya di halaman 73) (Lihat
Harian Pelita, Jakarta, Selasa 21 Februari 1995/ 21 Ramadhan 1415H, halaman 5).
Fatwa-fatwa lainnya, di
antaranya dikeluarkan oleh Muktamar Ulama Palestina yang pertama, Januari
1935, mengharamkan penjualan tanah Palestina kepada Israel, karena sama dengan
memperlancar pengusiran ummat Islam oleh Israel. Maka penjual tanah itu
dihukumi tidak boleh dishalati dan dikubur di pekuburan Muslimin, dan selama
hidupnya wajib diboikot. (Al-Quds, 20 Syawal 1353H/ 26 Desember 1935M, tertanda
Muhammad Amin Al-Husaini, Mufti Al-Quds dan Ketua Majlis Tinggi Islam, disertai
7 mufti lainnya dan hampir seratusan hakim agama).
Fatwa-fatwa lainnya, di
antaranya fatwa Ulama Najd, fatwa Syeikh Rasyid Ridha, fatwa Lajnah Fatwa
al-Azhar 1956 tentang haramnya berdamai dengan Israel dan wajib berjihad.
Dan Fatwa Syeikh Al-Azhar Hasan Ma'mun, intinya:
"Bertemanan dan saling
mengadakan hubungan perjanjian yang diadakan orang-orang Muslimin dengan
negara-negara lain yang non Islam itu boleh dari segi syari'ah apabila untuk
kemaslahatan kaum Muslimin. Adapun kalau hal itu untuk mendukung negara yang
memusuhi negeri Islam seperti Yahudi yang memusuhi Palestina, maka itu
menguatkan bagi musuh, mengakibatkan berlanjutnya dalam permusuhan terhadapnya
(negeri Islam), dan barangkali (melanjutkan) dalam memperluas di dalam
(wilayah)nya pula. Maka yang demikian itu tidak boleh secara syari'at
(Islam)." (Hasan Ma'mun, Syeikh Universitas Al-Azhar, Mufti Diyar Mesir, Fatwa
'Ulama' Muslimin, hal 63-66).
Segi yang lain, Gus Dur
sebagai tokoh yang hubungannya dengan internasional, tentunya perlu
mempertimbangkan data dan fakta. Seperti yang ditulis Adian Husaini,
ditegaskan: "Dengan Kasat mata, Israel memang masih menjadi negara penjajah,
karena mencaplok wilayah Palestina dan masih belum memenuhi resolusi PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa) 242 dan 338 yang memerintahkan Israel keluar
dari wilayah Pendudukan tahun 1967. Karena itulah, maka Indonesia tidak
membuka hubungan diplomatik dengan Israel. (Republika, 29/10 1999).
Semuanya itu
sebenarnya sudah jelas, seharusnya bagaimana sikap yang harus diambil.
Namun jauh-jauh hari sebelum jadi presiden, Gus Dur ketika diadakan dialog di
TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) 24 Mei 1999, Gus Dur selaku deklarator
PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan Ketua Tanfidziyah (eksekutif) Jami'iyah
NU (Nahdlatul Ulama --satu organisasi Islam yang sering disebut tradisional)
menegaskan, Indonesia perlu membuka hubungan diplomatik dengan Israel.
Alasannya, Indonesia mengakui Uni Soviet (Rusia) dan RRC sebagai negara.
Padahal, kedua negara itu menganut atheisme. "Israel itu masih mengakui Tuhan,
Anda tidak mau mengakui. Siapa yang bodoh," kata Gus Dur bersemangat, ketika
itu. (Adian Husaini, Menimbang Hubungan Dagang RI-Israel, Republika, 29/10 1999,
hal 6).
Ungkapan Gus Dur yang
--kalau tak salah-- telah dua kali disiarkan TPI (karena siarannya diulang
lagi waktu itu) dan dikutip Adian ini ketika Gus Dur jabarkan sekarang dengan
akan membuka hubungan ekonomi dengan Israel, dalam bahasa ndeso (desa)nya
namanya ucapan gebyah uyah (menyama ratakan, semua garam itu asin). Bahasa
kotanya mungkin menggeneralisir dan rancu, bahasa mantiq (logika)nya mungkin
menarik natijah/ konklusi/kesimpulan dengan qodhiyah/ unsur yang kurang syarat,
hingga sekilas seperti benar, padahal salah dan rancu. Bahasa ushul fiqhnya,
ia akan menarik garis dengan cara qiyas aulawi (ini yang begini saja boleh
apalagi itu yang begitu maka lebih boleh lagi) namun qiyas/ perbandingan
(analogi)nya itu kurang syarat alias qiyas ma'al fariq alias qiyas batil.
Kenapa?
Kenapa?
Karena, hubungan antar manusia atau antar negara itu bukan sekadar: apakah yang akan dihubungi itu mempercayai Tuhan atau tidak. Tetapi ada kaitan-kaitan lainnya. Yang jelas-jelas anti Tuhan pun, kalau itu tidak memusuhi Islam, maka ummat Islam boleh berhubungan secara manusiawi seperti berdagang dan sebagainya, dan perlu adil, namun dilarang mengangkat mereka sebagai teman akrab, apalagi pemimpin. Bahkan kalau mereka yang kafir itu tunduk dalam kekuasan Islam, isitilahnya kafir dzimmi, maka dilindungi. Sampai Nabi SAW bersabda:
Man aadzaa
dzimmiyyan faqod aadzaani wa man aadzaanii faqod aadzallaah. (Rowahut
Thobroni).
Barangsiapa mengganggu/menyakiti dzimmi (non Muslim
yang tunduk pada kekuasaan Islam) maka sungguh ia mengganggu saya (Muhammad),
dan siapa mengganggu saya maka sungguh ia mengganggu Allah." (Diriwayatkan
oleh at-Thabrani).
Sebaliknya, kalau orang
yang kafir atau atheis itu memusuhi Islam, maka namanya kafir harbi, yaitu orang
kafir dan musuh Islam. Itu hitungannya bukan karena sakadar kekafirannya
terhadap Tuhan, namun karena memusuhi itu.
Perlu diketahui, orang
muslim sendiri, bahkan sahabat Nabi SAW, yang pada dasarnya sebagai orang
beriman dan memang ta'at, namun suatu ketika wajib diboikot oleh ummat
Islam. Terkenal dalam ayat Al-Quran, al-hadits, dan sejarah Islam tentang
kasus Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Murarah bin Rabi' yang diboikot
oleh Nabi SAW beserta seluruh sahabat, termasuk keluarganya pun tak boleh
melayaninya; gara-gara Ka'ab bin Malik dkk ini tidak ikut perang jihad (saat
itu Perang Tabuk) padahal dalam keadaan segar bugar tanpa halangan. 50 hari
mereka itu diboikot hingga menangis tiap hari, terasa bumi ini sesak, karena
salamnya pun tidak boleh dijawab oleh ummat Islam. Setelah tobat dan
penderitaannya memuncak dan berlangsung 50 hari, barulah Allah SWT
membolehkan tegur sapa dan bergaul kepada Ka'ab dkk itu. (Lihat tafsir QS At-Taubah ayat 118.)
Jadi, persoalan pokok
boleh tidaknya berhubungan antar manusia, antar bangsa, atau antar negara, itu
bukan sekadar mempercayai Tuhan atau tidaknya. Memang tentang kepercayaan atau
keyakinannya itu menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan, tetapi tidak
langsung hantam kromo atau menggebyah uyah seperti yang dikatakan Gus Dur
itu.
Setelah jelas bahwa
logika Gus Dur itu jauh dari kebenaran, lalu dalam kenyataan, masih pula ia jauh
lagi dalam hal perencanaan teknisnya. Yaitu, untuk membuka hubungan diplomatik
dengan Israel, kini belum, tetapi untuk hubungan ekonomi, ya dibukalah.
Kilah yang keluar dari
mulutnya, di antaranya, karena tidak semua Yahudi Israel itu jahat.
Dicontohkan, dia sendiri mendirikan lembaga Shimon Peres, dan punya
teman-teman orang Yahudi, yang dia anggap baik-baik.
Kilah Gus Dur itu sangat
naif. Bisa diambil contoh, di dalam Islam, khamr (minuman keras) dan judi itu
ada manfaatnya, tetapi mudharatnya/dosa besarnya lebih besar dibanding
manfaatnya. (lihat QS Al-Baqarah: 219). Maka hukum finalnya, khamr dan judi
itu haram, keji, dan termasuk perbuatan syetan, wajib dijauhi (lihat QS
Al-Maa'idah/ 5:90-91). Bahkan Nabi SAW melaknat 10 orang yang berhubungan
dengan khamr.
La'anan
Nabiyyu SAW fil khomri 'asyarotan: 'Aashirohaa wa mu'tashirohaa wa
syaaribahaa wa haamilahaa wal mahmuulata ilaihi wa saaqiyahaa wa baai'ahaa wa
aakila tsamanihaa wal musytariya lahaa wal musytaroota lahaa.
"Rasulullah Saw melaknat tentang khamr, sepuluh
golongan: 1 yang memerasnya, 2 yang minta diperaskannya, 3 yang meminumnya, 4
yang membawanya, 5 yangminta diantarinya, 6 yang menuangkannya, 7 yang
menjualnya, 8 yangmakan harganya, 9 yang membelinya, dan 10 yang minta
dibelikannya." (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Bahkan lagi, orang yang
menjual buah anggur kepada pihak yang sudah diketahui membuat khamr pun
dilarang.
Man
habasal 'inaba ayyaamal qithoofi hattaa yabii'ahu min Yahuudiyyin aw
nashrooniyyin aw mimman yattakhidzuhu khomron faqod takhohhaman naaro 'alaa
bashiirotin.
"Barangsiapa menahan buah anggurnya pada musim-musim
memetiknya, kemudian dijual kepada seorang Yahudi atau Nasrani atau kepada
tukang membuat arak, maka sungguh jelas dia akan masuk neraka." (HR
At-Thabarani dalam Al-Awsath).
(Itu Gus Dur bisa
dipastikan telah faham). Lantas, bagaimana kalau Gus Dur membuka hubungan dagang
antar Indonesia dengan Israel itu akan mengayakan Israel, yang dengan
kekayaannya itu akan lebih gila lagi dalam menggencet Palestina khususnya, dan
ummat Islam sedunia pada umumnya? Bukankah hal itu lebih buruk ketimbang
sekadar menjual buah anggur kepada produser khamr? Bukankah itu berarti
mempersenjatai musuh Islam untuk memerangi Islam?
Kita bandingkan dengan
kehidupan sehari-hari saja, biar agak mudah persoalannya. Kita ambil misal,
seorang "anak gaul" (perilakunya bebas) telah dilarang oleh orang tuanya,
"jangan sampai kamu kawin dengan gadis "Pojokan" (rumahnya di pojokan, misalnya)
itu. Karena dia itu anak perampas tanah-tanah orang Islam, pembunuh, penipu,
perampas masjid ummat Islam, masih mengidap AIDS lagi. Dan dia itu terlibat
dalam semua kasus itu."
Lalu si "anak gaul" ini
tetap bersikap cengengesan, dan tetap akan mengadakan hubungan dengan gadis
"Pojokan" tersebut. Ketika orang tuanya marah-marah, maka si "anak gaul" ini
bilang: "Kan saya hanya bertemanan, Pak. Kalau untuk kawin sih, belum. Ini
hanya bertemanan, masa' nggak boleh? Apakah kalau orang serumah itu menjadi
perampok, tidak ada yang tidak merampok? Bayi-bayinya kan belum merampok? Jadi
kita berhubungan dengan para perampok seisi rumah itu karena di sana masih
ada bayi-bayi yang belum jadi perampok. Dan pula kita bergaul dengan
perampok itu agar mereka tidak merampok kita, setelah kita
nasehati."
Sebagai orang tua
yang baik, tentu wajib mengambil sikap terhadap anaknya yang sikapnya
cengengesan dan ngotot untuk bergaul dengan perampok itu. Sebaliknya, kalau
orang tua itu diam saja, atau bahkan mengiyakan, itu justru perlu
dipertanyakan. Mungkin si orang tua ini sendiri memang tidak lurus, mungkin
takut terhadap keganasan anaknya kalau mengamuk, atau mungkin punya utang
(harta atau budi) dengan si perampok tersebut, dll.
Walhasil, dari berbagai
segi, tokoh terutama Presiden Abdurrahman wahid dan Menteri Luar Negeri Dr
Alwi Shihab yang ingin menyelenggarakan hubungan ekonomi dengan Israel itu
terbukti sangat dangkal cara berfikir ataupun menimbang suatu
persoalan.
(Tentang dangkalnya
pendapat Dr Alwi Shihab di samping ungkapan nya mengaburkan ajaran Islam dan
menyakiti ummat Islam, bisa dibaca dalam buku Di Bawah Bayang-bayang
Soekarno Soeharto, Tragedi Politik Islam Indonesia dari Orde Lama hingga Orde
Baru, Darul Falah Jakarta, 1999, halaman 150-155).
Maka batallah julukan
wali, brilliant sekali dsb.nya itu, kalau tidak mau menyebut sebagai
sebaliknya. Hanya saja, karena bagaimanapun beliau itu adalah orang yang
berpengaruh, apalagi telah menjadi presiden, maka seorang dari kelompok yang
sangat keras sikapnya terhadap Israel yaitu Mas Mutammimul Ula SH, setelah jadi
anggota DPR, Meskipun demikian, masih agak mendingan sedikit ketimbang Pak
Zarkasih Noer dari PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang sama-sama
diwawancarai pagi itu, yang memang siang harinya kemudian Zarkasih Noer
termasuk yang diumumkan sebagai menteri (tentu pagi itu ia sudah tahu bahwa
dirinya akan diumumkan jadi menteri), yakni menteri koperasi, dalam jajaran
kabinet yang disebut "Kabinet Persatuan Nasional". Zaman Presiden Habibi
kabinet itu disebut "Kabinet Reformasi", sedang zaman Soeharto disebut
"Kabinet Pembangunan", yang terakhir kabinet masa Soeharto itu hanya
berumur 70 hari karena Soehartonya didemo para mahasiswa berhari-hari hingga
turun dari jabatan kepresidenan yang ia istilahkan lengser keprabon, dan
diserahkan kepada wakilnya, BJ Habibie.
Masalah kurang kerasnya
Mas Tamim dalam menggenjot gagasan Gus Dur tentang mau mengadakan hubungan
dagang/ ekonomi dengan Israel ini sangat beda dengan seniornya dalam pergaulan
seperti H Ahmad Sumargono. Sekalipun juga jadi anggota DPR namun Bang
Gogon (Sumargono) dari awal tampak masih agak lantang dalam kasus akan adanya
hubungan ekonomi dengan Israel itu. (Maaf Mas Tamim, ini sekadar ngitik-itik/
mengkilik-kilik, tapi boleh juga dipikirkan). Dan kemudian alhamdulillah,
setelah agak ramai penolakan dan protes terhadap kemauan keras Gus Dur itu,
khabarnya Mas Tamim bangkit pula menentang ketidakbijakan Presiden Gus Dur dan
Menteri Luar Negeri Alwi Shihab tersebut.
Kembali kepada
persoalan awal, ada profesor yang menggelari tokoh dengan gelar wali dan
dipuji karena dianggap brilliant sekali, itu pantas sekali dipertanyakan dan
diragukan ungkapannya itu.
Kalau profesornya saja
seperti itu cara berfikirnya, dan orang yang digelari wali yang sangat
brilliant saja seperti itu cara berfikir dan kebijaksanaannya, bisa kita
bayangkan, bagaimana orang awamnya yang model mereka. Makanya tak
mengherankan bila ajaran shufi yang sangat jauh dari Islam pun dengan mudah
menyebar dan dipegangi oleh orang awam secara turun temurun, bahkan
menjangkiti orang-orang yang disebut atau menyebut dirinya sebagai intelektual
Muslim. Hal yang sangat dimaklumi adanya, sekaligus sebagai keadaan yang sangat
perlu dihadapi dengan hikmah dan mau'idhah hasanah.
Barangkali ada yang
langsung bergumam dengan mengatakan, tulisan ini sendiri tidak menempuh jalan
dengan hikmah dan mau'idhah hasanah, buktinya langsung menunjuk nama Profesor
Dawam Rahardjo dan Gus Dur.
Maaf, mereka berdua itu
telah menyampaikan pendapat-pendapat tersebut di media massa umum, bahkan
kemungkinan sekali jangkauannya lebih luas dari buku ini, yakni koran harian
umum, dan televisi swasta yang menjangkau se Indonesia. Sehingga, kebatilan yang
mereka umumkan lewat media massa secara luas itu perlu diumumkan pula
kebatilannya, agar orang umum tahu bahwa itu batil. Dan sebaliknya, bila
apa yang saya (penulis) kemukakan ini batil, maka saya pun akan menerima
kebenaran, bila ada yang menjelaskannya dengan bukti-bukti/dalil bahwa
pendapat saya ini batil, dan bahkan saya akan berterimakasih, karena kebatilan
yang tersebar --akibat aneka kelemahan saya-- bisa terhapus. Di samping itu,
penyebutan nama-nama tersebut adalah untuk membuktikan secara ilmiah tentang
adanya kasus itu, hingga tidak berkadar sebagai karangan fiksi/ khayalan
belaka. Karena, masalah ini adalah masalah yang menyangkut agama Islam, satu
ajaran yang harus dipertanggung jawabkan di dunia dan bahkan sampai di
akherat kelak.
Tasawuf Belitan Iblis
- H Hartono Ahmad Jaiz –
Kunjungi juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar