Dari uraian di atas itu jelaslah bahwa Iptek itu merupakan fenomena sosial. Bagi masyarakat yang masih primitif Ipteknya juga masih sesuai dengan keadaan masyarakat itu, yaitu Iptek yang primitif. Baik masyarakat primitif maupun masyarakat modern sama-sama berurusan dengan sumberdaya alam dan peningkatan sumberdaya manusia. Bedanya hanya terletak dalam hal yang gradual, yaitu bagi masyarakat modern, tentu Ipteknya pun harus canggih juga. Makin berkembang struktur masyarakat, makin perlu pula Iptek itu diperkembang. Alhasil bagaimana pentingnya Iptek itu untuk pembangunan fisik, sebenarnya bukan barang baru, biasa-biasa saja. Ini untuk menghindarkan semacam kultus pada Iptek yang canggih.
***
Namun ada hal yang masih menjadi ganjalan bagi penulis yang telah menyediakan dirinya untuk menjadi penjaga gawang aqiedah. Dalam Seri 005 telah dibicarakan tentang sains yang tidak otonom, karena sains itu dalam kenyataannya telah memihak kepada golongan yang tidak mau tentang Tuhan, sehingga pada hakekatnya sains itu tidaklah bebas nilai. Dalam Seri 006 sains itu didefinisikan bertumpu di atas paradigma Tawhid. Dalam Seri 030 ybl., wujud saudara kembar teknologi itu telah digambarkan potretnya. Sains semacam yang telah digambarkan potretnya itu adalah eksklusif sifatnya. Hanya berurusan dengan pengkajian alam yang tanpa arah / purposeless, tanpa arti / senseless. Alam ini tidak lain dari sekadar gerakan saja. Gerakan-gerakan materi yang tidak diatur oleh Yang Maha Pengatur untuk maksud tertentu, melainkan alam ini dikendalikan kekuatan-kekuatan dan hukum-hukum alam yang buta / tidak terarah (blind forces and blind natural laws). Dalam skema tanpa arah dan tanpa arti ini, maka kehidupan manusiapun dipahami pula tanpa arah dan tanpa arti. Lalu manusia menciptakan sendiri tujuannya yang materialistik, lalu kehidupan itu menjadi gersang. Dan inilah penyebab keresahan, kerisauan, kesunyian dalam diri manusia "modern", yang mencoba mengatasinya, menghibur dirinya dalam kehidupan malam. Maka perlu wajah baru bagi sains. Yaitu membangun sains yang Islami itu dengan jalan menjabarkan Rabbul'alamin dalam sains. Bahwa alam ini bukanlah purposeless, senseless, meaningless. Penciptaan alam ini oleh Maha Pencipta ada tujuannya yang sudah didisain oleh Maha Pengatur, Maha Manajer, Ar Rabb. Allah adalah Rabbul'alamin.
Metodologi sains yang sekarang tidak akan diusik-usik, melainkan disempurnakan: observasi, rasionalisasi / penafsiran dan pengujian eksperimental. Ini disempurnakan dengan mencukupkan sumber informasi observasi menjadi ayat kawniyah (alam semesta) dan ayat qawliyah (Al Quran). Dengan mencukupkan pengujian eksperimental terhadap ayat kawniyah dan ditest teori hasil rasionalisasi itu dengan merujukkannya pada ayat qawliyah. Dalam pembangunan sains itu kajian dilanjutkan. Sesudah tahap pengujian eksperimental dikajilah tujuan fenomena alam yang telah diungkapkan itu. Misalnya hasil kajian tentang sifat-sifat istimwa air yang menyimpang itu. (Silakan baca ulang Seri 013: Air Zat yang Tidak Biasa). Sifat-sifat istimewa air itu menunjukkan tujuan penciptaan air, yaitu supaya manusia dapat hidup di permukaan bumi ini. Juga tujuan penciptaan sifat-sifat menyimpang dari air itu supaya binatang-binatang air dapat hidup di bawah es pada musim dingin, bahwa pohon yang tinggipun dapat hidup. Demikian pula lintasan bulan terhadap bumi, suatu elips yang mendekati lingkaran. Dikombinasi dengan jarak bumi matahari dan jarak bumi bulan. Dengan kombinasi itu, maka pada gerhana matahari penuh, bulan dapat menutup matahari tepat-tepat penuhnya. Ini mempunyai tujuan, yaitu Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk dapat mengobservasi dan kemudian mempelajari bahagian luar dari atmosfer matahari. Tanpa bulan tepat-tepat menutup matahari pada waktu gerhana matahari penuh, manusia tidak mungkin dapat mengobservasi bahagian luar matahari dengan baik.
Demikian pula entropi dalam hubungannya dengan Hukum Termodinamika Kedua, dan masih banyak hasil kajian sains yang lain yang dapat dikaji untuk tujuan penciptaan alam semesta oleh Allah SWT. Bahkan kajian tentang tujuan penciptaan alam ini dapat berupa majoring dalam sains yang telah dibangun ini, yang dapat pula melanjut pada spesialisasi.
Kesimpulannya, pengkajian sains yang Islami ditujukan pula terhadap tujuan penciptaan setiap makhluq di alam semesta ini oleh Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Bahwa pengkajian tentang tujuan penciptaan itu bukanlah monopoli golongan filosof dan "ulama". Pengkajian dalam sains yang telah disempurnakan ini akan membawa para pakar di bidang sains ini menghayati kalimah: Alhamdu liLlahi Rabbil'alamin, segala puji bagi Allah Yang Maha Mengatur alam raya ini. Penghayatan terhadap kalimah tersebut akan menghasilkan sikap Ulu lAlbab. Maka para pakar di bidang sainspun akan menemukan Allah di dalam bidang kajiannya, dan menjadilah mereka itu ulama dalam pengertian yang sesungguhnya, tanpa keluar meninggalkan disiplin ilmu yang digelutinya yaitu sains. WaLlahu a'lamu bishshawab.
*** Makassar, 31 Mei 1992 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk "Wahyu dan
Akal - Iman dan Ilmu")
Kunjungi juga:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar