Rasulullah SAW juga pernah bergurau
dengan nenek-nenek tua yang datang dan berkata, "Doakan aku kepada Allah agar
Allah memasukkan aku ke surga," maka Nabi SAW berkata kepadanya, "Wahai Ummu
Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua," maka wanita
tua itu pun menangis, karena ia memahami apa adanya. Maka Rasulullah SAW
memahamkannya, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai
orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik. Kemudian
Nabi SAW membaca firman Allah SWT:
"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya." (Al Waqi'ah: 35-37)
Ada seorang laki-laki datang ingin
dinaikkan unta, maka Nabi bersabda, "Saya tidak akan membawamu kecuali di atas
anak unta," maka orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang dapat saya
perbuat dengan anak unta?" Ingatannya langsung ke anak unta yang masih kecil.
Maka Rasulullah SAW bersabda, "Apakah ada unta yang melahirkan kecuali unta
juga?"
Zaid bin Aslam berkata, Ada seorang
wanita bernama Ummu Aiman datang ke Rasulullah SAW berkata, "Sesungguhnya
suamiku mengundangmu." Nabi berkata, "Siapakah dia, apakah dia orang yang
matanya ada putih-putihnya?." Ia berkata, "Demi Allah tidak ada di matanya
putih-putih!." Maka Nabi berkata. "Ya, di matanya ada putih-putih," maka wanita
itu berkata, "Tidak, demi Allah." Nabi berkata, "Tidak ada seorang pun kecuali
di matanya ada putih-putihnya." (Az-Zubair bin Bakar dalam "Al Fakahah wal
Mizah" dan Ibnu Abid-Dunya). Yang dimaksud dalam hadits ini adalah putih yang
melingkari hitamnya bola mata.
Anas berkata, "Abu Talhah pernah
mempunyai anak bernama Abu 'Umair, dan Rasulullah SAW pernah datang kepadanya
lalu berkata, 'Wahai Abu 'Umair apa yang diperbuat oleh Nughair (burung kecil)?'
Karena anak burung pipit yang dipermainkan."
'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW dan
Saudah binti Zam'ah pernah berada di rumahku, maka aku membuat bubur dan tepung
gandum yang dicampur dengan susu dan minyak, kemudian aku hidangkan, dan aku
katakan kepada Saudah, 'Makanlah' maka Saudah berkata, 'Saya tidak menyukainya,'
Maka aku berkata, 'Demi Allah benar-benar kamu makan atau aku colekkan bubur itu
ke wajahmu, ' maka Saudah berkata, 'Saya tidak mau mencicipinya, ' maka aku
('Aisyah) mengambil sedikit dari piring, kemudian aku colekkan ke wajahnya, saat
itu Rasulullah SAW menurunkan kepada Saudah kedua lututnya agar mau mengambil
dariku, maka aku mengambil dari piring sedikit lalu aku sentuhkan ke wajahku,
sehingga akhirnya Rasulullah SAW tertawa." (HR. Zubair bin Bakkar di dalam
kitabnya "Al Fukahah")
Diriwayatkan juga sesungguhnya Dhahhak
bin Sufyan Al Kallabi adalah orang yang berwajah buruk. Ketika dibai'at oleh
Nabi SAW maka Nabi bersabda, "Sesungguhnya aku mempunyai dua wanita yang lebih
cantik daripada si Merah Delima ini ('Aisyah),--ini sebelum turun ayat tentang
hijab--, "Apakah tidak sebaiknya aku ceraikan salah satunya untukmu, kemudian
kamu menikahinya?" Saat itu 'Aisyah sedang duduk mendengarkan, maka Aisyah
berkata, 'Apakah dia lebih baik atau engkau?" Maka Dhahhak menjawab, "Bahkan
saya lebih baik daripada dia dan lebih mulia." Maka Rasulullah SAW tersenyum
karena pertanyaan 'Aisyah kepadanya, karena ia laki-laki yang berwajah buruk. '
(HR. Zubair bin Bakkar di dalam "Al Fukaahah")
Rasulullah SAW senang untuk menebarkan
kegembiraan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia, terutama di dalam
momen-momen seperti hari raya atau pesta pernikahan.
Ketika Abu Bakar RA tidak setuju dengan
nyanyian dua budak wanita pada hari raya di rumahnya dan mengusir keduanya, maka
Nabi berkata kepada Abu Bakar, "Biarkan keduanya, wahai Abu Bakar, sesungguhnya
hari ini adalah hari raya."
Di dalam riwayat lain dikatakan, "Agar
orang-orang Yahudi mengetahui bahwa sesungguhnya di dalam agama kita ini ada
hiburan."
Rasulullah SAW juga pernah mengizinkan
kepada orang-orang Habasyah untuk bermain dengan tombak mereka di Masjid Nabawi
pada hari-hari besar dan Nabi SAW mendorong mereka, "Di bawahmu wahai Bani
Arfidah."
Rasulullah SAW memberi kesempatan kepada
Aisyah RA untuk melihat mereka dari belakangnya, sedangkan mereka terus bermain
dan menari, dan Nabi tidak memandang demikian itu sebagai
dosa.
Pada suatu hari beliau pernah menegur
suatu pesta perkawinan yang sepi-sepi saja, tidak disertai permainan atau
lagu-lagu. Beliau mengatakan, "Mengapa tidak ada permainannya? Sesungguhnya kaum
Anshar itu tertarik dengan permainan."
Di dalam sebagian riwayat Rasulullah SAW
bersabda, "Mengapa kamu tidak mengirimkan bersamanya orang yang menyanyi dan
mengatakan. 'Kami telah datang kepadamu... kami telah datang kepadamu... (karena
itu) sambutlah kami...,' sebagai ucapan selamat kami untukmu."
Para sahabat Nabi SAW dan orang-orang
yang mengikuti mereka (para tabi'in) adalah sebaik-baik generasi, namun mereka
juga tertawa dan bergembira karena mengikuti petunjuk Nabinya. Sampai orang
seperti Umar bin Khaththab yang terkenal kerasnya, juga pernah bergurau dengan
budaknya. Umar mengatakan kepada budaknya, "Aku diciptakan oleh Pencipta
orang-orang mulia, dan engkau diciptakan oleh Pencipta orang-orang durhaka!"
Ketika Umar melihat budaknya sedih karena kata-kata itu, maka Umar menjelaskan
dengan mengatakan, "Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan orang-orang mulia
dan orang-orang durhaka kecuali Allah 'Azza wa Jalla."
Sebagian sahabat ada yang bersenda gurau
dan Rasulullah SAW pun membiarkan dan menyetujui. Hal seperti ini terus berjalan
setelah Rasul SAW wafat. Semua itu diterima oleh para sahabat, tidak ada yang
mengingkari, meskipun seandainya peristiwa itu terjadi sekarang pasti akan
diingkari oleh sebagian besar aktifis Islam dengan pengingkaran yang keras,
bahkan mungkin mereka menganggap pelakunya tergolong orang-orang yang fasik atau
menyimpang.
Di antara sahabat yang terkenal sering
bergurau adalah Nu'aiman bin Umar Al Anshari RA, yang telah diriwayatkan darinya
beberapa keistimewaan yang aneh dan menakjubkan.
Beliau termasuk orang yang ikut
berbai'ah 'Aqabah yang kedua, pernah ikut perang Badar dan Uhud, Khandaq dan
seluruh peperangan yang ada.
Zubair bin Bakkar telah meriwayatkan
darinya sejumlah keanehan-keanehan yang langka di dalam kitabnya "Al Fukahah wal
Marakh," di sini kita sebutkan sebagian darinya:
Zubair bin Bakkar berkata, "Nu'aiman itu
tidak masuk ke Madinah sekejap mata pun kecuali ia membeli sesuatu darinya,
kemudian membawanya ke Rasulullah SAW kemudian ia berkata, "Ini aku hadiahkan
untukmu (wahai Rasulullah SAW)." Ketika pemiliknya datang ingin meminta uang
kepada Nu'aiman, maka orang itu dibawa kepada Nabi SAW Nu'aiman berkata, "Wahai
Rasulullah SAW berikan kepada orang ini uangnya (harga barangnya), maka Nabi
berkata, "Bukankah kamu telah menghadiahkan kepadaku?" Nu'aiman berkata, "Demi
Allah, saya tidak mempunyai uang (untuk membelinya), tetapi saya ingin engkau
memakannya, maka Rasulullah SAW tertawa, dan memerintahkan untuk memberikan
uangnya kepada pemilik (barang)nya."
Zubair bin Bakkar juga meriwayatkan
kisah lainnya dari Rabi'ah bin Utsman, ia berkata, "Ada seorang Badui masuk ke
rumah Rasulullah SAW dan mengikat untanya di halaman, maka berkata sebagian
sahabat kepada Nu'aiman Al Anshari, "Bagaimana kalau kamu sembelih unta ini,
lalu kami memakannya, sesungguhnya kami ingin sekali makan daging, maka Nu'aiman
pun melakukannya, sehingga orang Badui itu keluar dari rumah Nabi SAW dan
berteriak, "Untaku disembelih, wahai Muhammad !" Maka Nabi SAW keluar, lalu
berkata, "Siapa yang melakukan ini?," mereka menjawab, "Nu'aiman," maka Nabi SAW
mencarinya sehingga telah mendapatkannya masuk ke rumah Dhaba'ah binti Zubair
bin Abdul Muththalib dan bersembunyi di bawah gubuk kecil yang beratap daun
kurma. Ada seorang yang memberi tahu Nabi SAW di mana Nu'aiman bersembunyi, maka
Nabi SAW mengeluarkannya dan Nabi bertanya, "Apa yang mendorong kamu untuk
berbuat demikian?" Nu'aiman berkata. "Mereka yang memberitahu engkau wahai
Rasulullah, merekalah yang menyuruh aku untuk berbuat demikian." Setelah itu
Nabi SAW membersihkan debu yang ada di wajahnya dan tertawa, kemudian
menggantinya kepada Badui itu.
Sistem Masyarakat Islam dalam Al
Qur'an & Sunnah
Oleh: DR. Yusuf Al-Qardhawi
Kunjungi juga:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar